Pergilah, selagi kamu bisa.
Bersenang-senanglah, selagi kamu suka.
Dan lupakanlah, selagi kamu mampu.
Tapi satu yang pasti, kamu tidak akan bisa mengelak jika hatimu mulai meneriakkan rasa rindu.
Dimana, kepergianmu tidak dengannya, kesenanganmu bukan karenanya. Dan yang berusaha kamu lupakan adalah DIA. Seseorang yang sama, yang akan mengisi ruang rindumu.
Seseorang yang senyumnya mewarnai tiap harimu, seseorang yang dengan ketidak jelasannya membuatmu berdecak heran, seseorang yang selalu memakai emoticon sama tiap chat denganmu. Kamu akan merindukannya.
Lalu, apakah kamu sudah berhasil pergi?
Sudah bersenang-senangkah selagi kamu pergi?
Atau, dengan cepat kamu sudah bisa melupakannya?
Tidak penting itu semua. Karena pada akhirnya, setiap kamu berjalan pergi, rasa rindumu semakin mengekang. Membuat langkahmu terasa berat hanya untuk sekedar diangkat.
Bisa apa? Mau berdamai dengan rasa rindumu? Jika dengan menyapa adalah satu-satunya obat.
Laki-laki yang selalu kudengar dengan sebutan Monster Senja darinya, apakah kamu masih berkeras hati? Lihat bagaimana cara bayangannya semakin membuatmu gusar, bagaimana secara perlahan bayangannya itu masuk dalam ruang rindu yang dulunya hampa, dan kini dipenuhi oleh berbagai kenangan tentangnya, tentang caranya membuatmu tertawa lebar, membuatmu yang jarang tersenyum menjadi memperbanyak stok urat senyum, dan juga yang membuatmu tertular ketidak jelasannya.
Apakah itu terlalu mudah? Jika rindu menyulap diri menjadi racun.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu