Aku melihatmu, melihat senyummu yang mengembang membentuk garis simetris. Andai ini bukan khayalan saja.
Tapi kesadaranku tersentak, karena senyum yang kukhayalkan tak juga kunjung hilang, bahkan semakin dekat hingga menghapus jarak yang kupikir tak akan sedekat ini lagi.
Kau kembali. Seseorang yang kutunggu dipersimpangan, dengan waktu yang kurasa seperti berabad-abad lamanya.
Kau kembali. Disaat aku mulai lelah, dan jenuh mengarungi waktu yang terus berganti, tanpa bisa kuajak kompromi.
Inilah alasannya kenapa aku bersikekeh untuk tetap disini, menunggumu dipersimpangan yang sering kita kunjungi atau sekedar kita lewati biasanya. Karena aku yakin, kamu akan kembali. Kerinduan yang kurasakan juga pasti kamu rasakan.
Setelah lama kita berdebat dengan keheningan, suara yang pertama kali muncul, adalah suara yang telah lama dirindukan oleh indera pendengaranku. Dengan seksama aku mendengar suara bariton yang kudengar terasa sangat lembut.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Pertama kalinya aku menganggap suara monster senja terdengar seperti suara penyanyi india yang kukagumi kemerduannya.
Menunggumu. Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan. Alasanku ada disini hanya untuk itu. Jika kamu ingin menertawakanku, silahkan. Jika ini terlihat begitu sangsi dimatamu.
"Untuk apa?"
Pertanyaan yang perlu kujawab? Apa kamu tak ingat terakhir kita bertemu? Disaat kamu mulai lelah dengan segalanya, disaat itu pula aku merasa betapa banyak kekecewaan yang kusebabkan, aku terlalu banyak menyeretmu dalam kehidupanku, caraku, dan jalanku, yang bisa saja tak mudah kamu mengerti. Dan kamu tetap memahaminya.
Kukira terakhir kali kita bertemu, disaat aku mengutarakan lagi hal yang menambah deretan kekecewaanmu, kamu tidak akan kembali lagi, kamu akan menyerah. Tapi aku salah. Aku melihatmu kembali dengan cara yang mengesankan seperti ini.
Terlepas dari semua itu, aku hanya ingin meminta maaf, dan memohon untukmu tidak pergi lagi. Anggap aku sangat egois. Tapi keegoisanku yang membuatku terus menunggumu, dan akhirnya menemukanmu lagi, dipersimpangan ini. Lalu, kenapa aku tak memanfaatkan keegoisanku?
"Aku janji tidak akan pergi darimu lagi, karena rindu ini benar-benar tidak bisa kuajak berkompromi."
Dan satu yang pasti. Rindu akan menjadi racun, jika kita tak meminumnya.
Aku berterima kasih padamu rindu. Karenamu, monster senjaku kembali lagi.
Cukup dipersimpangan ini aku menulis kisah sedih karenamu, untuk selanjutnya aku berharap hanya kisah tentang kebahagiaan, kekonyolan, dan keabsurdan kita yang kutulis.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu