Apakah ada seseorang yang hidup tapi tidak punya pilihan? Jawabannya, ada.
Bukannya memang tidak punya pilihan, tapi tidak diperbolehkan punya pilihan.
Terkadang seseorang bersikap seolah satu keputusan adalah yang paling benar, dan menyalahkan keputusan lainnya. Dan terkadang juga, seseorang enggan mendengar lagi ucapan orang lain, karena sudah merasa keputusannya lah yang paling benar.
Tapi, apakah seseorang itu pernah berpikir bahwa semua itu membuat orang lain merasa tidak punya pilihan?
Setiap orang berhak memilih, setiap orang berhak menyuarakan isi hatinya, keinginannya, tapi kenapa harus dibatasi? Apakah seseorang tidak punya kehendak untuk bahagia dengan pilihannya?
Lucu, ada banyak ruang cara untuk memilih, tapi pintunya telah sengaja ditutup sebelum berhasil masuk.
Pilihan, pilihan, pilihan.
Rasanya terlalu kecil dan mudah, banyak beberapa orang mengumbar janji, janji dan janji, berjanji bahwa seseorang tetap akan memiliki pilihan meski awalnya dipilihkan. Janji yang seperti apa? Bukannya janji adalah satu hal yang harus ditepati? Tapi itu terasa seperti hal yang mudah dan gampang diingkari.
Lalu sekarang? Sama saja dipermainkan. Jika pilihan ada ditangan kita, tapi kenapa kita tidak berhak memilih? Pilihan yang seperti apa ditangan kita sebenarnya? Pilihan untuk diam? Jika memang hal itu cukup berarti, daripada bicara tapi sama sekali tidak didengar.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu