Langsung ke konten utama

Sosoknya bersama perasaanya

Letak sebuah kesalahan adalah; pada orang yang tak mau merubah perasaannya meski keadaan sudah tak mendukung. Jika setiap orang punya pemikiran hati bisa berubah secepat dan sesempurna bulan dari purnama ke sabit, maka tak dipungkiri hati pun bisa berubah meski secara merangkak perlahan.
Tapi bisa kah beri satu alasan selain takdir, untuk hati yang sejak dulu hingga sekarang- bahkan sesering mungkin coba dielak dan dihapus- tetap tak bergeser sedikitpun dari letaknya. Yang mungkin, orang lain akan dengan mudahnya memberi motivasi-inspirasi-simpati untuk hati-hati yang seperti kalang kabut tanpa sosoknya. Apa alasannya? Kenapa memendam sesuatu yang sudah tak diharapkan oleh pihak manapun, menjadi begitu sulit, bahkan meski coba dienyahkan juga? Apa? Sosoknya pun terus-dan terus, meminta agar rasa itu dihilangkan.
Hakimi saja. Seolah semuanya berhak menghakimi dengan statement-statement yang mereka miliki, yang mereka yakini, dan yang mereka agungkan. Perduli apa mereka? Bahkan sosoknya, dia juga ikut dalam barisan orang-orang yang mengucilkan perasaan itu, sedangkan sesungguhnya perasaan itu tertuju untuknya, untuknya.
Apakah dia tidak tau? Atau enggan tahu-menahu. Karena sesungguhnya dia sama. Sama memiliki perasaan, dan bingung harus diletakkan dibagian mana hatinya. Dibagian orang-orang yang mengucilkan perasaan itu, atau berdiri tegap bersama perasaan itu; melawan banyaknya orang yang terus mengucilkan.
Tapi sepertinya, dia menyerah dan mengaku kalah oleh perasaannya sendiri. Buktinya, dia sedang berdiri diantata orang yang sedang mengucilkan perasaan itu. Apakah dia tidak merasa, jika hal itu sama saja dengan mengucilkan perasaannya juga?
Kenapa terlihat seperti tembok dinding yang terbuat dari beton dan dikelilingi oleh angin tornado. Belaga kuat, disekeliling orang yang menentangnya.
Ini terasa lucu. Melihatnya harus marah pada perasaan itu; perasaan yang selalu- dan selalu coba dihapus, namun tak berarti apapun.

Si Monster Senja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...