Letak sebuah kesalahan adalah; pada orang yang tak mau merubah perasaannya meski keadaan sudah tak mendukung. Jika setiap orang punya pemikiran hati bisa berubah secepat dan sesempurna bulan dari purnama ke sabit, maka tak dipungkiri hati pun bisa berubah meski secara merangkak perlahan.
Tapi bisa kah beri satu alasan selain takdir, untuk hati yang sejak dulu hingga sekarang- bahkan sesering mungkin coba dielak dan dihapus- tetap tak bergeser sedikitpun dari letaknya. Yang mungkin, orang lain akan dengan mudahnya memberi motivasi-inspirasi-simpati untuk hati-hati yang seperti kalang kabut tanpa sosoknya. Apa alasannya? Kenapa memendam sesuatu yang sudah tak diharapkan oleh pihak manapun, menjadi begitu sulit, bahkan meski coba dienyahkan juga? Apa? Sosoknya pun terus-dan terus, meminta agar rasa itu dihilangkan.
Hakimi saja. Seolah semuanya berhak menghakimi dengan statement-statement yang mereka miliki, yang mereka yakini, dan yang mereka agungkan. Perduli apa mereka? Bahkan sosoknya, dia juga ikut dalam barisan orang-orang yang mengucilkan perasaan itu, sedangkan sesungguhnya perasaan itu tertuju untuknya, untuknya.
Apakah dia tidak tau? Atau enggan tahu-menahu. Karena sesungguhnya dia sama. Sama memiliki perasaan, dan bingung harus diletakkan dibagian mana hatinya. Dibagian orang-orang yang mengucilkan perasaan itu, atau berdiri tegap bersama perasaan itu; melawan banyaknya orang yang terus mengucilkan.
Tapi sepertinya, dia menyerah dan mengaku kalah oleh perasaannya sendiri. Buktinya, dia sedang berdiri diantata orang yang sedang mengucilkan perasaan itu. Apakah dia tidak merasa, jika hal itu sama saja dengan mengucilkan perasaannya juga?
Kenapa terlihat seperti tembok dinding yang terbuat dari beton dan dikelilingi oleh angin tornado. Belaga kuat, disekeliling orang yang menentangnya.
Ini terasa lucu. Melihatnya harus marah pada perasaan itu; perasaan yang selalu- dan selalu coba dihapus, namun tak berarti apapun.
Si Monster Senja.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu