Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Untukmu, yang pernah menjadi perempuanku

Aku , yang menjatuhkan hati padamu, perempuanku. Yang ku mengerti satu hal tentang tujuan-Nya menghadirkanmu dalam hidupku saat ini; untuk menjadi milikku, atau hanya sebagai pembelajaran. Rahasia takdir yang tak pernah bisa kubaca hingga kini. Aku hanya ingin menjadikanmu sekelumpit mimpi besar yang sedang ingin kuraih. Berusaha memantaskan diri, masih terus kucoba, Agar yang kau kenal hanya airmata kebahagiaan, bukanlah sebaliknya. Perempuan istimewa sepertimu, harus memiliki pendamping yang sama istimewanya. Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu, Pemilik senyum khas syurga yang tak ada habisnya membuat hatiku damai. Pemilik tatapan meneduhkan yang membuatku ingin terus menetap. Pemilik suara selembut sutra yang membuatku merasakan kenyamanan. Ingin rasanya, dengan cinta aku bisa memilikimu. Tapi, alasanku memantaskan diri tidak ada apa-apanya dengan yang sudah pantas sejak awal. Dia hadir, Laki-laki yang mampu memberikan cinta dan materi yang sesungguhnya. Perempu...

Untukmu, yang masih kuanggap laki-lakiku

Aku, yang menjatuhkan hati padamu, laki-lakiku. Terhitung kala itu aku mencintaimu, Berharap yang pernah terlewati, menjadi bagian paling terkenang saat kita tua nanti. Ku menemukanmu, dengan segala yang kucari. Kebahagiaanku ada pada senyum dan perhatianmu, Terbilang berlebihan, tapi itu kenyataannya. Hingga kita saling berjanji, Menjatuhkan hati satu sama lain, Dengan tujuan yang sama untuk nantinya. Tapi, dia datang. Mengambil alih kehadiramu, Membuatmu harus mengalah dan mundur. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus mengalah dan mundur? Bukankah kita memiliki janji-janji yang sebentar lagi sudah didepan mata. Jujur, aku kecewa padamu. Cinta yang seharusnya menguatkan kita, Tak berarti apapun karena materi. Seandainya, kau mau menetap bersama cinta itu, Seandainya, kau tak pergi meninggalkan cintaku, Seandainya, kau mengalahkan materi dengan cintamu. Berandai-andai membuatku semakin sakit. Karena yang kuandaikan, tak akan bisa menjadi kenyataan. Waktu berubah secepa...

Definisi ikhlas yang sesungguhnya

Aku tak pernah mengerti definisi ikhlas yang sesungguhnya, Karena yang kuanggap bisa direlakan, ternyata tak benar-benar bisa ku terima dengan lapang dada. Termasuk; keputusan kita untuk memilih jalan masing-masing. Bukan kita, tapi keadaan yang mengharuskan kita saling mengikhlaskan. Kita, maksudku aku dan kamu, sama seperti yang lainnya. Memiliki keinginan untuk menjadi satu-kesatuan yang sempurna, hingga celah sebesar apapun tak dapat dilihat karena kesempurnaan kita. Lucu, aku dan kamu pernah mempunyai mimpi sebesar itu, Hingga akhirnya jarak mulai terbentang begitu luasnya, Dengan pongahnya keadaan menyita seluruh mimpi-mimpi yang pernah kita harapkan. Sungguh seharusnya aku sadar, ini masih mimpi; yang bisa terwujud- atau sebaliknya. Kita sama-sama didunia dengan takdir yang menjadi penentu, Penentu sang pemilik hati. Sekuat keinginan, sebesar perasaan, tidak bisa mengalahkan takdir. Kamu berkata, "Sebesar apapun perasaanmu, akan bisa berubah begitu saja. Jadi, ...