Langsung ke konten utama

Definisi ikhlas yang sesungguhnya

Aku tak pernah mengerti definisi ikhlas yang sesungguhnya,
Karena yang kuanggap bisa direlakan, ternyata tak benar-benar bisa ku terima dengan lapang dada.
Termasuk; keputusan kita untuk memilih jalan masing-masing.

Bukan kita, tapi keadaan yang mengharuskan kita saling mengikhlaskan.
Kita, maksudku aku dan kamu, sama seperti yang lainnya.
Memiliki keinginan untuk menjadi satu-kesatuan yang sempurna, hingga celah sebesar apapun tak dapat dilihat karena kesempurnaan kita.

Lucu, aku dan kamu pernah mempunyai mimpi sebesar itu,
Hingga akhirnya jarak mulai terbentang begitu luasnya,
Dengan pongahnya keadaan menyita seluruh mimpi-mimpi yang pernah kita harapkan.

Sungguh seharusnya aku sadar, ini masih mimpi; yang bisa terwujud- atau sebaliknya.
Kita sama-sama didunia dengan takdir yang menjadi penentu,
Penentu sang pemilik hati.
Sekuat keinginan, sebesar perasaan, tidak bisa mengalahkan takdir.

Kamu berkata, "Sebesar apapun perasaanmu, akan bisa berubah begitu saja. Jadi, kamu cukup merasakannya, tidak untuk mengikutinya. Karena yang bermain bukanlah hati, tapi takdir."

Terdengar menyakitkan, apalagi kamu sendiri yang menyatakan itu.
Aku pun membenarkannya, tidak ada yang salah.
Kamu yang sebelumnya tak pernah bersikap puitis, tiba-tiba bisa berkata sebijak itu.
Dan bukannya menenangkanku, itu semua semakin membuatku gusar.

Butuh keikhlasan yang tak semudah itu. Mengertilah.
Mungkin, kamu bisa melakukannya, tapi aku (belum) bisa.
Ada banyak kejadian demi kejadian yang setiap kali terulang, membuatku merindukanmu.
Karena apa? Tentu karena kamu tak ada lagi dalam kejadian itu bersamaku.
Sepanjang jalan, menjadi tempat gurauan kita, maksudku aku dan kamu.
Tapi, kini aku melewati jalan itu hanya dengan keheningan, meski seseorang sedang menemaniku.

Rasanya, tak ada yang bisa membuatku terkesan, selain kamu.
Bagaimana caramu menerima ke-absurdkanku.
Dan terkadang kamu pun ikut tertular, lalu saat itu kamu menggerutu menyalahkanku.
Menyalahkanku karena merubah seseorang yang tadinya; tegas dan tak banyak tingkah, menjadi; konyol dan tidak jelas.
Lucu, jika mengingatnya.

Akan banyak cerita yang kutulis,
Namun begitu sulit menulis tentang jalan kita yang sudah tak lagi sejalan.
Hal yang tak pernah aku harapkan sama sekali.

Dear, Monster Senja.
From, Seberkas Jingganya Monster Senja- yang mengharapkan kearifan sang Monster.

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...