Aku tak pernah mengerti definisi ikhlas yang sesungguhnya,
Karena yang kuanggap bisa direlakan, ternyata tak benar-benar bisa ku terima dengan lapang dada.
Termasuk; keputusan kita untuk memilih jalan masing-masing.
Bukan kita, tapi keadaan yang mengharuskan kita saling mengikhlaskan.
Kita, maksudku aku dan kamu, sama seperti yang lainnya.
Memiliki keinginan untuk menjadi satu-kesatuan yang sempurna, hingga celah sebesar apapun tak dapat dilihat karena kesempurnaan kita.
Lucu, aku dan kamu pernah mempunyai mimpi sebesar itu,
Hingga akhirnya jarak mulai terbentang begitu luasnya,
Dengan pongahnya keadaan menyita seluruh mimpi-mimpi yang pernah kita harapkan.
Sungguh seharusnya aku sadar, ini masih mimpi; yang bisa terwujud- atau sebaliknya.
Kita sama-sama didunia dengan takdir yang menjadi penentu,
Penentu sang pemilik hati.
Sekuat keinginan, sebesar perasaan, tidak bisa mengalahkan takdir.
Kamu berkata, "Sebesar apapun perasaanmu, akan bisa berubah begitu saja. Jadi, kamu cukup merasakannya, tidak untuk mengikutinya. Karena yang bermain bukanlah hati, tapi takdir."
Terdengar menyakitkan, apalagi kamu sendiri yang menyatakan itu.
Aku pun membenarkannya, tidak ada yang salah.
Kamu yang sebelumnya tak pernah bersikap puitis, tiba-tiba bisa berkata sebijak itu.
Dan bukannya menenangkanku, itu semua semakin membuatku gusar.
Butuh keikhlasan yang tak semudah itu. Mengertilah.
Mungkin, kamu bisa melakukannya, tapi aku (belum) bisa.
Ada banyak kejadian demi kejadian yang setiap kali terulang, membuatku merindukanmu.
Karena apa? Tentu karena kamu tak ada lagi dalam kejadian itu bersamaku.
Sepanjang jalan, menjadi tempat gurauan kita, maksudku aku dan kamu.
Tapi, kini aku melewati jalan itu hanya dengan keheningan, meski seseorang sedang menemaniku.
Rasanya, tak ada yang bisa membuatku terkesan, selain kamu.
Bagaimana caramu menerima ke-absurdkanku.
Dan terkadang kamu pun ikut tertular, lalu saat itu kamu menggerutu menyalahkanku.
Menyalahkanku karena merubah seseorang yang tadinya; tegas dan tak banyak tingkah, menjadi; konyol dan tidak jelas.
Lucu, jika mengingatnya.
Akan banyak cerita yang kutulis,
Namun begitu sulit menulis tentang jalan kita yang sudah tak lagi sejalan.
Hal yang tak pernah aku harapkan sama sekali.
Dear, Monster Senja.
From, Seberkas Jingganya Monster Senja- yang mengharapkan kearifan sang Monster.
.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu