Langsung ke konten utama

Untukmu, yang pernah menjadi perempuanku

Aku, yang menjatuhkan hati padamu, perempuanku.

Yang ku mengerti satu hal tentang tujuan-Nya menghadirkanmu dalam hidupku saat ini; untuk menjadi milikku, atau hanya sebagai pembelajaran.
Rahasia takdir yang tak pernah bisa kubaca hingga kini.

Aku hanya ingin menjadikanmu sekelumpit mimpi besar yang sedang ingin kuraih.
Berusaha memantaskan diri, masih terus kucoba,
Agar yang kau kenal hanya airmata kebahagiaan, bukanlah sebaliknya.
Perempuan istimewa sepertimu, harus memiliki pendamping yang sama istimewanya.

Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu,
Pemilik senyum khas syurga yang tak ada habisnya membuat hatiku damai.
Pemilik tatapan meneduhkan yang membuatku ingin terus menetap.
Pemilik suara selembut sutra yang membuatku merasakan kenyamanan.
Ingin rasanya, dengan cinta aku bisa memilikimu.

Tapi, alasanku memantaskan diri tidak ada apa-apanya dengan yang sudah pantas sejak awal.
Dia hadir,
Laki-laki yang mampu memberikan cinta dan materi yang sesungguhnya.
Perempuan istimewa, tak hanya butuh cinta yang besar, namun juga materi.

Aku tersadar, bahwa yang kupunya hanya kepingan materi dari sejagad materi yang dia punya.
Meski kau menolaknya, tapi yang lain tak bisa mendukungmu.
Karena materi adalah kesungguhan yang nyata,
Sedangkan cinta hanya bayangan semu yang belum tentu diterima oleh kenyataan.

Aku mencintaimu, lebih dari dia.
Tapi aku tidak bisa memilikimu hanya dengan cinta.
Aku hanyalah laki-laki yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja,
Aku tak bisa menjanjikan kelebihanku untuk mendampingimu,
Karena semua itu tak ada apa-apanya dibandingkan dia.

Maafkan aku yang berhenti sampai disini,
Akhirnya Dia memberikan alasan kehadiranmu didalam hidupku hanyalah; untuk sebagai pembelajaran.

Lupakan apa yang pernah aku janjikan,
Tentang aku yang akan memiliki senyum, tatapan dan suaramu.
Karena aku bukanlah laki-laki istimewa yang sesungguhnya.

Dariku, laki-laki yang akan selalu mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...