Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Memeluk Bayang

Adakah aku disana? Disaat masa-masa sedih sedang kamu lewati, Airmata mana yang tak bisa kulihat kala itu. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dengan menggumamkan agar segala kesedihan itu tersudahi. Melihatmu seperti ini, mengingatkan aku diwaktu itu. Dimana aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Mata mana yang tidak menumpahkan buihnya, ketika seseorang yang begitu berarti harus pergi tanpa berpamit. Sedih, dan kecewa pada diri sendiri yang merasa belum menjadi baik dimatanya sewaktu itu. Andai, dengan menukar nyawa bisa membuat usianya tak bermasa secepat itu. Tapi, takdir mana yang bisa ditebak. Usia merupakan takdir, yang berakhirnya tak bisa diduga. Meski perih, namun apa yang bisa diperbuat? Yang berusia, pasti bermasa. Dan yang bermasa, pasti berakhir. Tidak ada yang lebih sedih, dari kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidup. Bahkan, sampai kapanpun. Tapi kesedihan yang berlarut-larut, itu tidak diperbolehkan. Andai, aku a...

Sebagai pelaku

ku ditakdirkan, bukan mentakdirkan. Aku hanya bisa berusaha, namun tak bisa mentakdirkan usahaku berjalan sempurna. Sesungguhnya, aku hanya sebagai pelaku, bukan penentu. Ku serahkan semuanya pada Dia, pemilik takdir yang sesungguhnya. Yang tau dimana dan sampai kapan perjalanan hidupku berhenti, begitupun dengan perasaan yang kuemban. Ingin ku tak terlalu menjatuhkan hati, yang sesungguhnya bukan aku lah penentunya, Namun sebagai pelaku, aku terlalu terbuai dengan manisnya cinta, yang belum tentu berbuah indah. Sebagai pelaku, aku takut mengemban perasaan yang tak terkendali ini. Sebagai pelaku, aku sedih mengingat cintaku yang menjadi benalu dalam hidup, merusak segala keadaan yang harusnya baik-baik saja. Sebagai pelaku, kurutuki kesalahan yang membiarkan hatiku jatuh dan pecah berkeping-keping. Hingga membuatku lupa, bahwa aku ditakdirkan hanya sebagai pelaku. Bukannya penentu. Sebagai penentu, Dia lah yang memberi cinta dalam hatiku. Sebagai penentu, Dia lah yang menci...

Kamu, yang berusaha ku lupakan

Kamu, yang selalu menempati ruang tersendiri dihatiku. Baru satu minggu yang lalu, kamu datang ke rumah untuk bersilaturahmi dengan ayah-ibuku. Mereka terlihat menyukaimu, banyak pujian yang mereka lontarkan setelah kamu pergi untuk pulang. Satu senyum saja, menggetarkan hati mereka sebagai orang tua, betapa bahagianya ketika aku melihat mereka bahagia, dan itu karenamu. Harapanku ternyata berjalan mulus karena restu mereka. Tapi, dua hari yang lalu, kamu mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Membuatku harus berperang lagi dengan sikap egois. Terkadang begitu lelah, tapi melihatmu membuatku takut kehilangan. Ya, kamu memintaku untuk merelakanmu, menjauhimu, dan melupakanmu. Lagi. Aku kira kejadian diwaktu dulu, tepatnya saat kamu meminta hal yang sama, tidak akan pernah terjadi lagi, karena aku berusaha untuk menyanggupi apa yang kamu inginkan, dan saling berjanji kalimat itu tak akan diulang lagi. Tapi ternyata? Mungkin, pertahananku sebagai laki-laki harus runtuh sampai disini, h...