Adakah aku disana?
Disaat masa-masa sedih sedang kamu lewati,
Airmata mana yang tak bisa kulihat kala itu.
Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dengan menggumamkan agar segala kesedihan itu tersudahi.
Melihatmu seperti ini, mengingatkan aku diwaktu itu. Dimana aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Mata mana yang tidak menumpahkan buihnya, ketika seseorang yang begitu berarti harus pergi tanpa berpamit.
Sedih, dan kecewa pada diri sendiri yang merasa belum menjadi baik dimatanya sewaktu itu. Andai, dengan menukar nyawa bisa membuat usianya tak bermasa secepat itu.
Tapi, takdir mana yang bisa ditebak. Usia merupakan takdir, yang berakhirnya tak bisa diduga.
Meski perih, namun apa yang bisa diperbuat?
Yang berusia, pasti bermasa. Dan yang bermasa, pasti berakhir.
Tidak ada yang lebih sedih, dari kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidup. Bahkan, sampai kapanpun.
Tapi kesedihan yang berlarut-larut, itu tidak diperbolehkan. Andai, aku ada disana, memberimu tau bahwa mungkin kesedihan yang mendalam adalah diposisiku sewaktu itu. Tapi untuk apa, kita sama-sama kehilangan.
Aku hanya bisa memeluk bayanganmu,
Berusaha mencairkan kesedihan yang kurasa tak semudah itu,
Menenangkan hati yang sedang teroyak dan terombang-ambing,
Dari kejauhan, hanya dari kejauhan. Ada batas yang takut kulewati.
Dan semoga, apa yang coba kuharapkan bisa kamu rasakan. Kegusaran, juga kesedihan yang hilang dengan perlahan.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu