Langsung ke konten utama

Memeluk Bayang

Adakah aku disana?
Disaat masa-masa sedih sedang kamu lewati,
Airmata mana yang tak bisa kulihat kala itu.
Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dengan menggumamkan agar segala kesedihan itu tersudahi.
Melihatmu seperti ini, mengingatkan aku diwaktu itu. Dimana aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Mata mana yang tidak menumpahkan buihnya, ketika seseorang yang begitu berarti harus pergi tanpa berpamit.
Sedih, dan kecewa pada diri sendiri yang merasa belum menjadi baik dimatanya sewaktu itu. Andai, dengan menukar nyawa bisa membuat usianya tak bermasa secepat itu.
Tapi, takdir mana yang bisa ditebak. Usia merupakan takdir, yang berakhirnya tak bisa diduga.
Meski perih, namun apa yang bisa diperbuat?
Yang berusia, pasti bermasa. Dan yang bermasa, pasti berakhir.
Tidak ada yang lebih sedih, dari kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidup. Bahkan, sampai kapanpun.
Tapi kesedihan yang berlarut-larut, itu tidak diperbolehkan. Andai, aku ada disana, memberimu tau bahwa mungkin kesedihan yang mendalam adalah diposisiku sewaktu itu. Tapi untuk apa, kita sama-sama kehilangan.
Aku hanya bisa memeluk bayanganmu,
Berusaha mencairkan kesedihan yang kurasa tak semudah itu,
Menenangkan hati yang sedang teroyak dan terombang-ambing,
Dari kejauhan, hanya dari kejauhan. Ada batas yang takut kulewati.
Dan semoga, apa yang coba kuharapkan bisa kamu rasakan. Kegusaran, juga kesedihan yang hilang dengan perlahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...