Langsung ke konten utama

Sebagai pelaku

ku ditakdirkan, bukan mentakdirkan.
Aku hanya bisa berusaha, namun tak bisa mentakdirkan usahaku berjalan sempurna.
Sesungguhnya, aku hanya sebagai pelaku, bukan penentu.
Ku serahkan semuanya pada Dia, pemilik takdir yang sesungguhnya.
Yang tau dimana dan sampai kapan perjalanan hidupku berhenti, begitupun dengan perasaan yang kuemban.
Ingin ku tak terlalu menjatuhkan hati, yang sesungguhnya bukan aku lah penentunya,
Namun sebagai pelaku, aku terlalu terbuai dengan manisnya cinta, yang belum tentu berbuah indah.
Sebagai pelaku, aku takut mengemban perasaan yang tak terkendali ini.
Sebagai pelaku, aku sedih mengingat cintaku yang menjadi benalu dalam hidup, merusak segala keadaan yang harusnya baik-baik saja.
Sebagai pelaku, kurutuki kesalahan yang membiarkan hatiku jatuh dan pecah berkeping-keping.
Hingga membuatku lupa, bahwa aku ditakdirkan hanya sebagai pelaku. Bukannya penentu.
Sebagai penentu, Dia lah yang memberi cinta dalam hatiku.
Sebagai penentu, Dia lah yang menciptakan sosok untuk kucintai.
Sebagai penentu, Dia lah yang menguarkan perasaanku, agar bisa mencintai.
Tapi sebagai penentu, Dia tak pernah membuatku menjatuhkan hati terlalu dalam.
Sebagai penentu, Dia tak pernah menciptakan cinta sebagai benalu, yang akhirnya harus kurutuki karena pecah berkeping-keping.
Itulah bedanya, aku menjadi pelaku, dan aku yang harus mengemban atas apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya, sebuah cinta, yang seharusnya ku syukuri bukan sebaliknya.
Maafkan aku, Ya Allah. Sebagai Hamba-Mu, aku tak mengerti betapa indahnya Engkau ciptakan cinta, yang malah kuanggap duri dalam kelangsungan hidupku.

Ku merindukannya.
26 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...