ku ditakdirkan, bukan mentakdirkan.
Aku hanya bisa berusaha, namun tak bisa mentakdirkan usahaku berjalan sempurna.
Sesungguhnya, aku hanya sebagai pelaku, bukan penentu.
Ku serahkan semuanya pada Dia, pemilik takdir yang sesungguhnya.
Yang tau dimana dan sampai kapan perjalanan hidupku berhenti, begitupun dengan perasaan yang kuemban.
Ingin ku tak terlalu menjatuhkan hati, yang sesungguhnya bukan aku lah penentunya,
Namun sebagai pelaku, aku terlalu terbuai dengan manisnya cinta, yang belum tentu berbuah indah.
Sebagai pelaku, aku takut mengemban perasaan yang tak terkendali ini.
Sebagai pelaku, aku sedih mengingat cintaku yang menjadi benalu dalam hidup, merusak segala keadaan yang harusnya baik-baik saja.
Sebagai pelaku, kurutuki kesalahan yang membiarkan hatiku jatuh dan pecah berkeping-keping.
Hingga membuatku lupa, bahwa aku ditakdirkan hanya sebagai pelaku. Bukannya penentu.
Sebagai penentu, Dia lah yang memberi cinta dalam hatiku.
Sebagai penentu, Dia lah yang menciptakan sosok untuk kucintai.
Sebagai penentu, Dia lah yang menguarkan perasaanku, agar bisa mencintai.
Tapi sebagai penentu, Dia tak pernah membuatku menjatuhkan hati terlalu dalam.
Sebagai penentu, Dia tak pernah menciptakan cinta sebagai benalu, yang akhirnya harus kurutuki karena pecah berkeping-keping.
Itulah bedanya, aku menjadi pelaku, dan aku yang harus mengemban atas apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya, sebuah cinta, yang seharusnya ku syukuri bukan sebaliknya.
Maafkan aku, Ya Allah. Sebagai Hamba-Mu, aku tak mengerti betapa indahnya Engkau ciptakan cinta, yang malah kuanggap duri dalam kelangsungan hidupku.
Ku merindukannya.
26 Juli 2017
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu