Langsung ke konten utama

Kamu, yang berusaha ku lupakan

Kamu, yang selalu menempati ruang tersendiri dihatiku.

Baru satu minggu yang lalu, kamu datang ke rumah untuk bersilaturahmi dengan ayah-ibuku. Mereka terlihat menyukaimu, banyak pujian yang mereka lontarkan setelah kamu pergi untuk pulang. Satu senyum saja, menggetarkan hati mereka sebagai orang tua, betapa bahagianya ketika aku melihat mereka bahagia, dan itu karenamu. Harapanku ternyata berjalan mulus karena restu mereka.

Tapi, dua hari yang lalu, kamu mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Membuatku harus berperang lagi dengan sikap egois. Terkadang begitu lelah, tapi melihatmu membuatku takut kehilangan.
Ya, kamu memintaku untuk merelakanmu, menjauhimu, dan melupakanmu. Lagi.

Aku kira kejadian diwaktu dulu, tepatnya saat kamu meminta hal yang sama, tidak akan pernah terjadi lagi, karena aku berusaha untuk menyanggupi apa yang kamu inginkan, dan saling berjanji kalimat itu tak akan diulang lagi. Tapi ternyata?

Mungkin, pertahananku sebagai laki-laki harus runtuh sampai disini, harga diriku cukup disakiti sampai seperti ini. Meski semua itu akan kalah dengan perasaan yang benar-benar tulus untukmu.

Bukan aku menyerah, atau tak lagi peduli. Tapi aku ingin membebaskanmu. Aku menyadari selama ini, kebahagiaanmu bukan lagi bersamaku, dan aku semakin merasa bersalah atas hal itu.

Mengekangmu dengan keegoisanku, ternyata semakin menyakitiku.
Jika dikata cinta, tapi kamu tak meminta.
Bila dikata sayang, tapi kamu tak memandang.

Aku laki-laki yang tak pandai mengekspresikan sebuah rasa cinta, dan itu hal utama yang menjadi permaslahan. Lalu, apakah aku perlu belajar terlebih dahulu agar cintaku menjadi terbaik dimatamu?
Caraku mencintaimu sekarang, ternyata membuatmu memilih orang lain.
Cintaku yang tulus, dibalas olehmu dengan kata yang mehunus.

Kebebasan benar-benar kamu dapatkan, buktinya sekarang sudah ada orang lain yang telah masuk dihatimu. Secepat itu? Sedangkan, untuk menata hati kembali sangat sulit kulakukan.

Aku berusaha menyatukan tentang pandangan cinta dimata kita berdua, yang ternyata sangat berbeda artian.

Selama ini, aku menyatukan Kuasa dan cinta, menabur buih cinta dengan bait demi bait tasbih dalam sajadahku.
Namun, ternyata dipandanganmu itu tak lebih dari hal menyebalkan.
Memang, seringkali aku membuatmu menunggu,
Mengganggu tidurmu disepertiga malam,
Dan memintamu beristiqomah dengan hijab.
Apakah karena segala tuntutan itu kamu menjadi bosan? Tuntutan yang menguntungkanmu nanti di akhirat.

Ya. Aku tak pernah menyalahkan cinta yang menjadi anugerah dan hakikat yang dimiliki setiap manusia. Tapi aku menyayangkan persepsi manusia itu sendiri tentang cinta.

Seperti saat aku belajar mencintaimu, aku juga akan belajar melupakanmu. Karena cinta pada sesama manusia akhirnya tetap harus pergi, entah karena tak cocok atau karena ajal.

Selamat malam, perempuanku.
Melupakanmu, tak semudah mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...