Kamu, yang selalu menempati ruang tersendiri dihatiku.
Baru satu minggu yang lalu, kamu datang ke rumah untuk bersilaturahmi dengan ayah-ibuku. Mereka terlihat menyukaimu, banyak pujian yang mereka lontarkan setelah kamu pergi untuk pulang. Satu senyum saja, menggetarkan hati mereka sebagai orang tua, betapa bahagianya ketika aku melihat mereka bahagia, dan itu karenamu. Harapanku ternyata berjalan mulus karena restu mereka.
Tapi, dua hari yang lalu, kamu mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Membuatku harus berperang lagi dengan sikap egois. Terkadang begitu lelah, tapi melihatmu membuatku takut kehilangan.
Ya, kamu memintaku untuk merelakanmu, menjauhimu, dan melupakanmu. Lagi.
Aku kira kejadian diwaktu dulu, tepatnya saat kamu meminta hal yang sama, tidak akan pernah terjadi lagi, karena aku berusaha untuk menyanggupi apa yang kamu inginkan, dan saling berjanji kalimat itu tak akan diulang lagi. Tapi ternyata?
Mungkin, pertahananku sebagai laki-laki harus runtuh sampai disini, harga diriku cukup disakiti sampai seperti ini. Meski semua itu akan kalah dengan perasaan yang benar-benar tulus untukmu.
Bukan aku menyerah, atau tak lagi peduli. Tapi aku ingin membebaskanmu. Aku menyadari selama ini, kebahagiaanmu bukan lagi bersamaku, dan aku semakin merasa bersalah atas hal itu.
Mengekangmu dengan keegoisanku, ternyata semakin menyakitiku.
Jika dikata cinta, tapi kamu tak meminta.
Bila dikata sayang, tapi kamu tak memandang.
Aku laki-laki yang tak pandai mengekspresikan sebuah rasa cinta, dan itu hal utama yang menjadi permaslahan. Lalu, apakah aku perlu belajar terlebih dahulu agar cintaku menjadi terbaik dimatamu?
Caraku mencintaimu sekarang, ternyata membuatmu memilih orang lain.
Cintaku yang tulus, dibalas olehmu dengan kata yang mehunus.
Kebebasan benar-benar kamu dapatkan, buktinya sekarang sudah ada orang lain yang telah masuk dihatimu. Secepat itu? Sedangkan, untuk menata hati kembali sangat sulit kulakukan.
Aku berusaha menyatukan tentang pandangan cinta dimata kita berdua, yang ternyata sangat berbeda artian.
Selama ini, aku menyatukan Kuasa dan cinta, menabur buih cinta dengan bait demi bait tasbih dalam sajadahku.
Namun, ternyata dipandanganmu itu tak lebih dari hal menyebalkan.
Memang, seringkali aku membuatmu menunggu,
Mengganggu tidurmu disepertiga malam,
Dan memintamu beristiqomah dengan hijab.
Apakah karena segala tuntutan itu kamu menjadi bosan? Tuntutan yang menguntungkanmu nanti di akhirat.
Ya. Aku tak pernah menyalahkan cinta yang menjadi anugerah dan hakikat yang dimiliki setiap manusia. Tapi aku menyayangkan persepsi manusia itu sendiri tentang cinta.
Seperti saat aku belajar mencintaimu, aku juga akan belajar melupakanmu. Karena cinta pada sesama manusia akhirnya tetap harus pergi, entah karena tak cocok atau karena ajal.
Selamat malam, perempuanku.
Melupakanmu, tak semudah mencintaimu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu