Menjadikanmu prioritas bukanlah pilihanku lagi,
Tapi keinginanku untuk menjadikanmu bagian dalam hidupku masih berlangsung hingga sekarang,
Tidak bisa semudah itu aku enyahkan,
Dan tidak bisa semudah itu aku singkirkan.
Semua yang terkait tentangmu adalah kebahagian.
Aku pernah berpikir untuk menjadikanmu dalam bagian kenangan yang harus kulupakan,
Tapi aku sadar, dari semua kenangan yang buruk, tidak menjadi bandingan dengan kenangan tentangmu; yang tidak ada keburukannya di mata ku.
Kamu yang pernah menjadi perisaiku, tamengku, dan senjataku, disetiap keadaan, bahkan aku berpikir dengan menutup mata saja aku bisa berjalan tanpa terseok.
Itu adalah lalu,
Yang sudah berlalu,
Dan tak mungkin kembali seperti dulu,
Meski berusaha sekuat pilu.
Pilu yang menyiratkan keheningan,
Karena hanya dengan sendiri, dan menadahkan tangan diatas sajadah,
Akan terkuar segala apa yang menjadi beban,
Tanpa meminta orang mengerti, dan paham.
Karena apa yang kuharap mengerti, belum tentu paham.
Tidak setuju boleh, tapi berbaiklah jika itu yang terbaik.
Dan, aku masih menyembunyikan mu dari peradaban,
Bukan sosokmu yang ku sembunyikan,
Namun perasaan untukmu yang kututup rapat dari khalayak,
Karena seperti yang tadi, jika aku meminta orang lain mengerti, belum tentu mereka paham.
Maka, biarkan aku menyembunyikan mu dalam perasaanku dari peradaban.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu