Aku ingin berhenti disini,
Menelan pahit sekaligus manis secara bersamaan.
Tak ada yang tau, bahkan aku.
Karena dari semua padi yang berbaris, masih ada satu-dua yang layu karena tak sehat.
Pemberhentian yang tak urung menyisakan sedih berkepanjangan,
Namun harus terjadi jika sudah dipersilahkan.
Siapa yang rela?
Apabila itu semua membuat lega.
Tak patut dipertanyakan,
Karena yang pasti adalah takdir.
Dan kita tak dapat sendiri mengukir.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu