Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Aku hanya tempat tidurmu, bukan rumahmu

Baca sebelumnya : Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi Aku harusnya sudah menyiapkan diri sejak mengenalmu, karena bukan aku tujuanmu, bukan aku pemberhentianmu. Aku tak lebih hanya tempatmu berkunjung, kemudian pergi ketika sudah lelah. Harapan-harapan yang kamu berikan tak lebih hanya khayalanku, karena kamu tak pernah memberikannya sungguhan. Hanya bersandarkan pundak semu, yang hilang ketika kekasihnya memanggil untuk pulang. Aku tak apa, jangan pikirkan perempuan tak tau diri sepertiku; yang memintamu, yang menahanmu, yang melarangmu, sedang tidak sadar posisinya tak berarti hanya seorang yang disembunyikan. Waktu yang selama ini kamu luangkan, cukup untuk mencuatkan perasaan ini yang penuh harapan, hingga lupa tempatnya kelelahan, tentunya bukan disampingmu melainkan kesunyian. Ketika ku sadar, ku sudah sejauh ini menaruh harapan. Membenarkan kesalahan, dalam persembunyian. Hakimi aku, jika mencintaimu hingga sedalam ini, sedang kamu tak mempedulikannya sedikitpun. H...

Karena kamu berbeda dengannya

Baca sebelumnya : Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian Mataku mengerjap, ketika suara ponsel berbunyi dengan nyaring disampingku. Ku kira alarm, tapi ternyata sebuah panggilan. Dan dia penelponnya. Kenapa sepagi ini dia sudah membuat rusuh? "Halo?" Aku menormalkan suaraku yang masih serak karena baru bangun tidur. "Sayang, nanti anterin aku kerumah tante ya. Ada acara disana, mumpung kamu libur kerja kan." Ucapnya dengan penuh semangat. " Aku gak mau ada penolakan ya, anggap ini quality time kita yang jarang terjadi. Yaudah gih cepet mandi, terus jemput aku. " Seolah persetujuan dariku tidak penting, dia bersikap egois tanpa memikirkan waktuku. "Iya, Sayang." Jawabku sembari mengakhiri percakapan ditelpon. Disini, aku coba tidak membandingkan dia dengan kamu, perempuan yang berada dipersembunyianku. Karena kamu selalu mengerti tentang keadaan dan waktuku, meski kamu punya ego yang sama dengannya, namun kamu dapat mere...

Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi

Baca sebelumnya : Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak Seperti biasa, aku mulai bertingkah tak masuk akal. Bukannya malu dan menghentikanku, kamu malah menertawaiku dan sesekali mencubit pinggangku karena gemas. Tidak lama kemudian, aku menghentikan tingkahku karena salah satu pelayan cafe sedang mengantarkan pesanan kita. "Silahkaan. Duh serasinya." Ucapnya. Seluruh pelayan bahkan band yang mengisi musik setiap sabtu di cafe tersebut sudah kenal dan hapal dengan kita. Mereka mengira kita sepasang kekasih, padahal aku tak lain hanya perempuan yang kamu sembunyikan, entah untuk kapan, dan akankah semua orang dalam cafe ini mengira seperti itu seterusnya? Atau, mereka akan berbalik mencaciku karena aku tak lebih dari penikmat milik orang. "Satu minggu ini kita bisa full day." Ucapmu sembari menggenggam tanganku, menjanjikan satu hal yang pernah kamu lakukan juga, dan aku takut seperti waktu itu, janjimu tak terealisasikan. Aku tersenyu...