Baca sebelumnya : Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi Aku harusnya sudah menyiapkan diri sejak mengenalmu, karena bukan aku tujuanmu, bukan aku pemberhentianmu. Aku tak lebih hanya tempatmu berkunjung, kemudian pergi ketika sudah lelah. Harapan-harapan yang kamu berikan tak lebih hanya khayalanku, karena kamu tak pernah memberikannya sungguhan. Hanya bersandarkan pundak semu, yang hilang ketika kekasihnya memanggil untuk pulang. Aku tak apa, jangan pikirkan perempuan tak tau diri sepertiku; yang memintamu, yang menahanmu, yang melarangmu, sedang tidak sadar posisinya tak berarti hanya seorang yang disembunyikan. Waktu yang selama ini kamu luangkan, cukup untuk mencuatkan perasaan ini yang penuh harapan, hingga lupa tempatnya kelelahan, tentunya bukan disampingmu melainkan kesunyian. Ketika ku sadar, ku sudah sejauh ini menaruh harapan. Membenarkan kesalahan, dalam persembunyian. Hakimi aku, jika mencintaimu hingga sedalam ini, sedang kamu tak mempedulikannya sedikitpun. H...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.