Langsung ke konten utama

Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi

Baca sebelumnya : Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak

Seperti biasa, aku mulai bertingkah tak masuk akal. Bukannya malu dan menghentikanku, kamu malah menertawaiku dan sesekali mencubit pinggangku karena gemas.

Tidak lama kemudian, aku menghentikan tingkahku karena salah satu pelayan cafe sedang mengantarkan pesanan kita. "Silahkaan. Duh serasinya." Ucapnya. Seluruh pelayan bahkan band yang mengisi musik setiap sabtu di cafe tersebut sudah kenal dan hapal dengan kita. Mereka mengira kita sepasang kekasih, padahal aku tak lain hanya perempuan yang kamu sembunyikan, entah untuk kapan, dan akankah semua orang dalam cafe ini mengira seperti itu seterusnya? Atau, mereka akan berbalik mencaciku karena aku tak lebih dari penikmat milik orang.

"Satu minggu ini kita bisa full day." Ucapmu sembari menggenggam tanganku, menjanjikan satu hal yang pernah kamu lakukan juga, dan aku takut seperti waktu itu, janjimu tak terealisasikan.

Aku tersenyum, "Jangan janji kalo gak bisa tepatin."

Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi, dikeringkan oleh matahari meski perlahan. Aku hanya takut kembali kecewa, Sayang. Aku takut terlalu berharap, kemudian dijatuhkan sangat keras. Aku takut, harapan yang kamu ciptakan akan kamu hancurkan juga.

Jangan membual banyak janji, karena dalam persembunyianmu ini sudah membuatku sakit tapi tak dirasakan.
Aku bertahan, dan menahan. Aku kecewa, dan mengecewakan. Aku jatuh, dan menjatuhkan.
Aku ingin bertahan, Sayang. Tapi bagaimana dengan kamu yang selalu kutahan untuk tetap disampingku? Sedangkan ada seseorang yang sedang menunggumu tanpa lelah, dan kamu selalu takut menyakitinya, kamu tidak mau melihatnya bersedih meski pertengkaran selalu terjadi.
Aku kecewa, Sayang. Apa posisiku saat ini dalam hidupmu? Apa hubungan kita saat ini? Jika orang asing, kita lebih dari saling melihat. Jika teman, kita lebih dari saling sapa. Jika kekasih, kita lebih dari saling memperhatikan. Lalu apa namanya hubungan kita? Aku sudah cukup jauh mengecewakannya, jika dia tau. Aku akan menyakitinya dengan sangat dalam jika tau aku telah memintamu darinya selama ini.
Aku jatuh, Sayang. Tiap kali kamu pamit untuk pulang, saat itu aku berpikir bahwa aku tak lebih dari tempat singgahmu. Berulang kali kamu pamit, dan berulang kali juga kamu menjatuhkanku. Jatuh kedalam lembah gelap yang penuh dengan dengungan suaramu, menyebabkan rindu semakin menyeruak meski baru bertemu.

Kamu kembali meyakinkanku bahwa satu minggu ke depan kita akan selalu bersama, tanpa alasan apapun untuk pergi. Aku percaya kali ini, setiap detik aku tidak bisa curiga denganmu, aku selalu kembali terbuai ketika dengan wajah serius kamu meyakinkanku. Mengapa aku bisa sejatuh cinta ini? Pada orang yang tak bisa kumiliki seutuhnya.

Pagi selanjutnya, mataku mengerjap melihat jam weker yang sudah menunjukkan pukul 05.00, terlalu pagi tapi ku sangat bersemangat. Karena apa? Karena mulai hari ini sampai tujuh hari kemudian aku punya banyak waktu bersamamu, melihatmu dan menggenggam tanganmu.

Suara ponselku tiba-tiba berbunyi, dan panggilan itu dari kamu. Hatiku langsung berkecamuk, antara dia mengabariku jadi dan tidak. Ini sudah terjadi beberapa kali, dan aku takut kali ini sama seperti sebelumnya yang akhirnya membuatku kecewa.

"Halo?"

"Sayang, maaf. Aku tiba-tiba ditelfon dia, dan dia minta anter ke rumah tantenya."

Entah kenapa, aku merasa kekecewaan ini sangat besar menggumpal didadaku. Harapan yang baru kemarin kamu buat, sudah hancur pagi ini.

Aku, tidak mau menangis karena hal sepele seperti ini. Aku menyadarkan diri lagi siapa aku dan posisiku, aku harusnya bersyukur masih dikabari meski pedih, daripada sudah menunggu dan tak ada kabar.

"Iya." Jawabku lalu menutup sambungan telfon. Aku tidak tau, kenapa kali ini sangat sakit. Padahal aku harusnya belajar dari sebelum-sebelumnya, yang menyakitiku karena harapan.

Indah mungkin menjadi dia, pergi kemana-mana bisa leluasa denganmu, merangkulmu dikhalayak umum sembari tertawa bersama, mengunjungi rumah saudara dan melihat senyum mereka melihat kita.
Bahagia mungkin ya, Sayang.

Tiba-tiba ponselku kembali berbunyi, dan panggilan itu kembali darimu. Aku tidak mau kamu mendengar suaraku yang parau, dan aku takut tidak dapat menahan emosi. Jadi maaf, Sayang. Aku tidak bisa kali ini.

Jika kamu ingin menenangkanku kali ini, aku cukup tenang tanpa mendengar suaramu sebentar. Aku masih tidak mau mendengar kamu pamit untuk pergi, dan menghancurkan harapan yang kemarin baru kamu buat.

Biarkan aku sendiri dulu didalam persembunyian ini, Sayang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...