Langsung ke konten utama

Karena kamu berbeda dengannya

Baca sebelumnya : Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian

Mataku mengerjap, ketika suara ponsel berbunyi dengan nyaring disampingku. Ku kira alarm, tapi ternyata sebuah panggilan. Dan dia penelponnya. Kenapa sepagi ini dia sudah membuat rusuh?

"Halo?" Aku menormalkan suaraku yang masih serak karena baru bangun tidur.

"Sayang, nanti anterin aku kerumah tante ya. Ada acara disana, mumpung kamu libur kerja kan." Ucapnya dengan penuh semangat. "Aku gak mau ada penolakan ya, anggap ini quality time kita yang jarang terjadi. Yaudah gih cepet mandi, terus jemput aku. "

Seolah persetujuan dariku tidak penting, dia bersikap egois tanpa memikirkan waktuku. "Iya, Sayang." Jawabku sembari mengakhiri percakapan ditelpon.

Disini, aku coba tidak membandingkan dia dengan kamu, perempuan yang berada dipersembunyianku. Karena kamu selalu mengerti tentang keadaan dan waktuku, meski kamu punya ego yang sama dengannya, namun kamu dapat meredam, dan membuatku nyaman dengan itu semua. Sungguh, aku tidak mau membandingkan. Karena kamu berbeda dengannya.

Mengingatmu, otakku langsung mencerna apa yang terjadi kemarin malam sebelum pulang, tentang janjiku. Dalam satu minggu ke depan kita akan bersama-sama, bahkan kamu sudah membuat daftar apa yang akan kita lakukan, meski ada batasan dimana kita akan pergi. Ya, mungkin kamu merasa seperti itu. Kita tidak bisa pergi ke tempat sesuka hati kita, karena banyak mata yang mengawasi, dan aku takut berimbas pada kehidupan kita, apalagi kamu. Aku tidak mau orang berpikiran buruk tentangmu.

Aku ingin mengeluarkanmu dari persembunyian ini, sungguh. Agar kamu tak seberat ini mempertahankanku. Tapi untuk melepasmu, aku berpikir beribu kali, mungkinkah aku mendapatkan perempuan sepertimu lagi? Mungkinkah aku bisa lupa pada kecupan manis didahiku, aku akan kehilangan kenyamanan yang tanpa kita buat-buat muncul dengan sendirinya. Siapa nanti yang akan meredam emosiku? Jika dengan pelukanmu adalah obat termanjur ketika ku marah.

Aku mengambil ponselku lagi yang tadinya ku geletakkan diatas ranjang. Mencari nomor perempuan ternyamanku. Entah, apa reaksinya nanti, apa dia akan kembali kekecewakan setelah beberapa kali janjiku seperti ini kuingkari karena dia.

"Halo?" Suara diseberang terdengar serak, mungkin dia juga baru terbangun.

Aku akan kembali mengecewakannya lagi, aku akan menghancurkan harapan yang dikatakannya kemarin. Aku kembali menyakiti hati perempuanku. "Sayang, maaf. Aku tiba-tiba ditelfon dia, dan dia minta anter ke rumah tantenya."

Hening. Aku menunggu jawabannya. Semua persepsi sudah berkecamuk dipikiran, apa reaksimu aku menjadi khawatir. Namun tiba-tiba panggilan itu dimatikan.

Aku benar-benar telah mengecewakanmu lagi. Aku telah menyakiti hatimu lagi. Laki-laki macam apa aku? Yang selalu membuatmu menangis, meski tak pernah dilihatkan padaku. Dengan membawamu dalam persembunyian ini adalah hal paling menyakitkan yang kamu rasakan sebenarnya, dan sekarang kamu hanya mendapatkan harapan-harapan semu dariku. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku tidak pernah mau membawamu dalam keadaan ini. Aku hanya ingin mempertahankanmu, aku ingin disuatu hari nanti kita benar-benar bersama, tanpa menyakiti hati siapapun, termasuk dia.

Aku terus mengirim pesan, tapi ternyata pesan itu hanya dibaca. Aku benar-benar gusar, rasa takut kehilangan lah yang membuatku seperti ini. Aku takut kamu sudah lelah dengan semua ini, dan memilih keluar dari persembunyian, lalu meninggalkanku dan menerima salah satu dari mereka yang sudah menunggumu. Aku belum siap kehilanganmu. Aku belum siap hariku tanpamu.

Aku sudah keluar dari rumah, tidak untuk menemuinya, melainkan pergi ke cafe untuk menemuimu. Selang beberapa waktu setelah kamu tidak menjawab pesan dan telfonku, aku membatalkan pergi dengannya, aku mengkhawatirkan keadaanmu. Aku percaya diri melangkah kedalam cafe, ku tau kamu akan tetap disana untuk menungguku, seperti yang sudah-sudah. Tapi ketika aku sudah memasuki tempat itu, kemudian mengedarkan pandangan, aku tak melihatmu. Aku kehilangan sosokmu saat ini.

Akh mungkin tidak sekarang, aku yang terlalu tepat waktu. Sambil terus menelpon, aku memesan minuman. Tapi hingga hari menjelang sore, usahaku menunggumu tak kunjung menemui titik terang. Kamu belum datang sampai sekarang, bahkan ponselmu mati dan aku tidak bisa menghubungimu.

Apa sekecewa itu kah kamu? Hingga kamu tak mau tau tentang kabarku. Perempuan dalam persembunyianku, sungguh aku belum siap kehilanganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...