Langsung ke konten utama

Aku hanya tempat tidurmu, bukan rumahmu

Baca sebelumnya : Seperti buih embun pagi yang membasahi bumi

Aku harusnya sudah menyiapkan diri sejak mengenalmu, karena bukan aku tujuanmu, bukan aku pemberhentianmu. Aku tak lebih hanya tempatmu berkunjung, kemudian pergi ketika sudah lelah.
Harapan-harapan yang kamu berikan tak lebih hanya khayalanku, karena kamu tak pernah memberikannya sungguhan. Hanya bersandarkan pundak semu, yang hilang ketika kekasihnya memanggil untuk pulang.
Aku tak apa, jangan pikirkan perempuan tak tau diri sepertiku; yang memintamu, yang menahanmu, yang melarangmu, sedang tidak sadar posisinya tak berarti hanya seorang yang disembunyikan.
Waktu yang selama ini kamu luangkan, cukup untuk mencuatkan perasaan ini yang penuh harapan, hingga lupa tempatnya kelelahan, tentunya bukan disampingmu melainkan kesunyian.
Ketika ku sadar, ku sudah sejauh ini menaruh harapan. Membenarkan kesalahan, dalam persembunyian.
Hakimi aku, jika mencintaimu hingga sedalam ini, sedang kamu tak mempedulikannya sedikitpun. Hatiku hancur, tapi tak melebur saat seperti aku menjatuhkan harapan.

Aku berjalan ke cafe tempat biasanya ku bercengkrama dengan kamu, kutau hari ini kamu tidak akan datang seperti janji-janji yang penuh bual, aku muak sebenarnya, tapi aku terus jatuh dilubang yang sama, sudah pantas jika disamakan dengan keledai, tak urung aku kembali menangisi kenyataan bahwa bukan aku lah prioritasmu, keberadaanku hanya hiburan semata ketika kamu mulai lelah dengannya.

Aku duduk ditempat biasanya, tapi meja itu masih terlihat kotor, mungkin pelayannya masih membersihkan meja lain dan meja didepanku belum gilirannya. Aku menatap sisa menu yang ada, persis seperti pesananmu. Akh, betapa bodohnya aku, mengapa aku berpikir hanya kamu yang suka chocolatos hangat. Banyak orang yang suka, dan aku masih terjebak diharapan untuk bisa bertemu denganmu hari ini. Tapi ada satu benda yang membuatku yakin kamu benar ada disini, yaitu tisu yang ada dibawah gelas chocolatos hangat itu. Cuma kamu orang yang aku kenal, yang melakukan itu ketika minuman yang dipesan datang.

Tiba-tiba seseorang duduk disampingku, menyecap minumannya, kemudian sibuk memainkan ponsel. Aku menoleh untuk melihatnya, dan ternyata itu kamu. Tanpa melihatku balik, kamu seolah menghiraukanku.

Seperti de javu, aku berharap kamu ada disini, dan kamu benar-benar ada.

"Darimana saja?" Ucapmu dengan menatapku intens.

"Dari rumah." Jawabku seadanya. Memang begitu kan? Ingatkah kamu pagi-pagi menelpon? Untuk membatalkan pertemuan kita.

"Dari pagi aku disini," Ucapmu dengan nada datar.

Apa aku harus percaya? Bukankah kamu sendiri yang membatalkan pertemuan kita.

"Serius?"

"Aku pernah berbohong sama kamu?"

Ya kamu benar. Kamu tidak pernah berbohong padaku. Tapi kamu berbohong padanya.
Kamu tidak suka berbohong, tapi karenaku kamu melakukannya. Itu semua agar hubunganmu baik-baik saja, kamu menyembunyikanku dengan rapat dari khalayak. Aku tidak akan pernah memprotes itu. Aku memang pantas.

Aku hanya tempat tidurmu, bukan rumahmu.

"Kenapa kamu menghindar? Kenapa seolah kamu nggak mau berhubungan lagi denganku? Aku menunggumu sejak pagi disini..."

"Lalu dimana dia?" Tanyaku memotong penjelasannya.

"Aku menolak mengantarkannya." Jelasmu. Entah kenapa aku merasa diberi harapan lagi. Yang seakan-akan aku lah prioritasmu.

"Kenapa kamu nggak bilang?" Gerutuku, kenapa tidak sejak awal tadi, kenapa aku membuatmu menunggu selama ini. Jujur, aku selalu jatuh dan luluh padamu, lagi dan lagi.

"Bagaimana aku bisa bilang, kalo kamu menghindar." Kamu jauh lebih menggerutu. Hingga sesore ini kamu enggan beranjak dari cafe ini untuk menungguku, sedang aku bergelut dengan pikiranku yang membayangkan bagaimana bahagianya menjadi perempuanmu ketika sedang berdua berkunjung kerumah saudara.

Aku tak tau lagi apa yang harus dilakukan, disisi lain aku ingin keluar dari persembunyian ini, tapi sebaliknya, sikapmu yang membuatku kembali luluh dan berat untuk pergi. Kamu tidak mengekangku, tapi diriku sendirilah yang sukarela menetap.

Aku mengutuk diriku sendiri lagi untuk kesekian kalinya, ketakutan-ketakutanmu dahulu ternyata sedang aku rasakan sekarang. Kamu pernah berkata apa yang akan terjadi dengan hubungan kita nantinya, kamu takut melangkah mengambil resiko lebih jauh, tapi kamu tidak bisa pergi begitu saja untuk saling meninggalkan. Dan sekarang, inilah yang aku rasakan. Aku takut hatiku semakin sakit berada dalam persembunyian ini, tapi aku juga takut hatiku jauh lebih sakit jika memutuskan untuk pergi.

Aku, perempuan dalam persembunyianmu yang ingin ini selesai, tapi masih penuh harapan untuk bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...