Percayaku pada rasamu sudah hancur,
namun rasaku tidak kunjung melebur.
Bagaimana bisa, mencinta saat rasa sudah terkubur?
Pelukku yang hambar,
Namun rinduku masih menyambar.
Mana mungkin, ada nyaman ketika pertemuan membuat gusar?
Tatapmu tak lagi menggetarkan dada,
Namun kepergianmu menggoyahkan logika.
Bagaimana bisa, aku membencimu dalam keadaan mencinta?
Ku tau kamu tak benar-benar mencinta,
Sebab itu aku membenci rasa yang kamu tumbuhkan dalam dada.
Tapi ketika kamu memintaku untuk duduk berdua,
Ku menyambutnya dengan senang hati tanpa duka.
Bagaimana bisa, aku terus menerimamu,
Sedangkan aku telah melepas genggamanmu.
Mana mungkin, aku sanggup menetap,
Sedangkan aku tak lagi berharap.
Aku yang dulu mencintaimu begitu dalam,
Sedang mencari cara mengucap salam perpisahan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu