Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Pengagum Kenangan ?

Seseorang yang dengan pernah bangganya kuperkenalkan ke dunia, kini bak ditelan bumi. Pamit tanpa pernah memberi kepastian kapan akan kembali. Aku masih menunggu, entah sampai kapan akan berlalu. Yang pasti aku masih memegang janjmu untuk kembali, meski sesekali aku bergelut dengan overthinkingku. Salahkah aku jika berpikir janjimu dulu hanya untuk membuatku tenang sementara? Agar aku tidak merengek memintamu menetap, agar kamu bisa secepatnya lepas dari perempuan sepertiku; perempuan yang bagimu tidak berusaha sedikitpun memperjuangkan sebuah hubungan. Setidaknya dengan kamu seperti ini membuatku membuka mata lebar-lebar, dari sudut pandangku dan kamu sekaligus. Kita berbenturan oleh dinding yang disebut ego dan sukar berbalik karena gengsi. Bahkan kamu telah menyematkan bio disebuah akun sosial mediamu menjadi "Pengagum kenangan", dimana akun tersebut hanya berisi tentang kita. Akh, harusnya mulai dari itu aku sudah tau maksudmu. Tapi kenapa aku masih egois untuk menunggu, ...

Bodoh atau mati rasa?

 Ketika aku yang sedang tertatih, dan tanpa diduga sebuah uluran tangan membawaku untuk lebih tegap berjalan, merangkulku sembari menunjuk kedepan; dimana kamu membingkai semua harapan dengan begitu indah disana.  Aku yang mati rasa, berusaha untuk kembali menata. Untuk apa? Untuk meyakinkan diri bahwa; siapapun, termasuk aku. Adalah Hamba Allah yang memiliki jodoh, meski masih dibalut oleh rahasia. Aku menyambut uluran tanganmu, menatap kedepan dan meyakini bahwa semua harapan itu akan terjadi sebentar lagi. Aku akan menjadi perempuan terbahagia bisa bersama orang yang kucintai. Bahkan seolah punya banyak waktu, hingga aku bisa berkhayal hidup berdua denganmu, menikmatinya sembari berproses, beradu mesra dengan kakakku, saudara sepupu, dan 'mereka'. Bahkan planning itu sudah tersusun rapi, meski tidak diatas kertas. Tapi ternyata waktuku cukup terbuang hanya untuk berkhayal, tidak untuk memprioritaskanmu. Aku terlalu sering mengabaikanmu, hingga semua ekspektasimu padaku hanc...

Berlarat-larat

  Disisi lain aku melihatnya, Seorang yang dikatakan monster, namun bagiku ia setenang senja. Itu mengapa ku menyebutnya monster senja. Seolah ada magis yang menarikku untuk terbelenggu, Dalam dekapannya, tercurah mohonan afiat, atas apa-apa yang menghambat, Sempat aku menarik diri dan berlarat-larat, Namun takdir menuntunku ke hulu, dan aku kembali terjaga. Aku sadar, ternyata yang membuatku bersuka cita bukanlah aram-temaram, Namun bersemayam. Selamat untuk diriku, ia telah menjadi milikku seutuhnya. Dan tidak seharusnya aku menikam lalu hilang. Ia berhak berdamai dengan kekalutannya, untuk mencintaiku.

Bagiku ia setenang air

Yang mereka gunakan untuk melihatmu adalah mata, sedangkan aku melihatmu dengan hati. Pria dengan masa lalu yang dianggap sebagian orang tidak layak untuk masuk dalam hidupku, nyatanya adalah pria yang sudah merengkuh seluruh hatiku. Entah aku yang tuli atau mentulikan diri. Entah aku yang buta atau membutakan diri. Mereka menyebutnya belati, namun bagiku ia setenang air sungai. Mereka menyebutnya b*jingan, namun bagiku ia adalah harapan. Ingin aku memberitau kepada mereka, bahwa ia tak seperti yang didefinisikan. Ia hanya pria biasa yang juga bisa mencintai dan menjatuhkan hati.  Sesekali aku ingin mengatakan pada dunia tentangnya; tentang bagaimana caranya memperlakukanku, tentang sebahagia apa diriku saat bersamanya, tentang aku yang sangat mencintainya. Namun sama kerasnya denganku, ia memintaku berhenti, memintaku untuk sekali lagi bersabar bahwa suatu saat nanti kita akan bersama tanpa memaksa orang lain untuk setuju. Sungguh, dari sekian pria yang kukenal, ia lah yang menjat...