Langsung ke konten utama

Pengagum Kenangan ?

Seseorang yang dengan pernah bangganya kuperkenalkan ke dunia, kini bak ditelan bumi. Pamit tanpa pernah memberi kepastian kapan akan kembali.

Aku masih menunggu, entah sampai kapan akan berlalu. Yang pasti aku masih memegang janjmu untuk kembali, meski sesekali aku bergelut dengan overthinkingku. Salahkah aku jika berpikir janjimu dulu hanya untuk membuatku tenang sementara? Agar aku tidak merengek memintamu menetap, agar kamu bisa secepatnya lepas dari perempuan sepertiku; perempuan yang bagimu tidak berusaha sedikitpun memperjuangkan sebuah hubungan.

Setidaknya dengan kamu seperti ini membuatku membuka mata lebar-lebar, dari sudut pandangku dan kamu sekaligus. Kita berbenturan oleh dinding yang disebut ego dan sukar berbalik karena gengsi.

Bahkan kamu telah menyematkan bio disebuah akun sosial mediamu menjadi "Pengagum kenangan", dimana akun tersebut hanya berisi tentang kita. Akh, harusnya mulai dari itu aku sudah tau maksudmu. Tapi kenapa aku masih egois untuk menunggu, kenapa aku masih berpikir kamu akan kembali?

Seperti yang aku bilang, kita sama-sama keras kepala, sama-sama enggan menurunkan ego masing-masing. Aku yang harusnya berani untuk bertanya kepastian, malah sembunyi disenyum kepalsuan.

Seperti yang kamu lihat, setiap feed yang kupublish dibeberapa sosial mediaku; aku bersikap seolah baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa diantara kita. Itu karena apa? Karena aku menjaga hubungan kita dimata dunia, meski kenyataannya kita sudah tidak saling bertegur sapa. Mungkin sebab itu juga yang membuatmu ragu untuk menghubungiku, kamu mengira aku bisa tanpamu, pasti kamu merasa aku baik-baik saja jika kamu pamit tanpa pernah kembali hingga sekarang.

Padahal kenyataannya aku masih menunggumu. 

Semoga kamu tidak membaca tulisan ini, karena aku masih terlalu gengsi dan menunjunjung tinggi egoku.

Aku tidak ingin kamu melihatku serapuh dan segusar ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...