Seseorang yang dengan pernah bangganya kuperkenalkan ke dunia, kini bak ditelan bumi. Pamit tanpa pernah memberi kepastian kapan akan kembali.
Aku masih menunggu, entah sampai kapan akan berlalu. Yang pasti aku masih memegang janjmu untuk kembali, meski sesekali aku bergelut dengan overthinkingku. Salahkah aku jika berpikir janjimu dulu hanya untuk membuatku tenang sementara? Agar aku tidak merengek memintamu menetap, agar kamu bisa secepatnya lepas dari perempuan sepertiku; perempuan yang bagimu tidak berusaha sedikitpun memperjuangkan sebuah hubungan.
Setidaknya dengan kamu seperti ini membuatku membuka mata lebar-lebar, dari sudut pandangku dan kamu sekaligus. Kita berbenturan oleh dinding yang disebut ego dan sukar berbalik karena gengsi.
Bahkan kamu telah menyematkan bio disebuah akun sosial mediamu menjadi "Pengagum kenangan", dimana akun tersebut hanya berisi tentang kita. Akh, harusnya mulai dari itu aku sudah tau maksudmu. Tapi kenapa aku masih egois untuk menunggu, kenapa aku masih berpikir kamu akan kembali?
Seperti yang aku bilang, kita sama-sama keras kepala, sama-sama enggan menurunkan ego masing-masing. Aku yang harusnya berani untuk bertanya kepastian, malah sembunyi disenyum kepalsuan.
Seperti yang kamu lihat, setiap feed yang kupublish dibeberapa sosial mediaku; aku bersikap seolah baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa diantara kita. Itu karena apa? Karena aku menjaga hubungan kita dimata dunia, meski kenyataannya kita sudah tidak saling bertegur sapa. Mungkin sebab itu juga yang membuatmu ragu untuk menghubungiku, kamu mengira aku bisa tanpamu, pasti kamu merasa aku baik-baik saja jika kamu pamit tanpa pernah kembali hingga sekarang.
Padahal kenyataannya aku masih menunggumu.
Semoga kamu tidak membaca tulisan ini, karena aku masih terlalu gengsi dan menunjunjung tinggi egoku.
Aku tidak ingin kamu melihatku serapuh dan segusar ini.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu