Langsung ke konten utama

Tulisan Terakhir

Untuk sebuah hubungan yang pernah dimulai, harusnya ada kata perpisahan jika ingin melepaskan. Harusnya ada kepastian agar tak gusar akan pengakuan.

Dan hari itu benar-benar tiba, kamu berjalan dengan tegap dan tegas mengucapkan selamat tinggal. Yakinlah, aku tidak apa-apa. Aku lega akhirnya berada difase ini. Bukan karena ingin segera lepas darimu, tapi aku ingin memutuskan kemana harus berjalan. 

Tulisan ini mungkin akan jadi yang terakhir kalinya menceritakanmu. Karena hari-harimu bukan tentangku lagi, begitupun sebaliknya. Dan bahkan, mungkin aku akan lupa dengan apa yang kita lalui bersama, dulu.

Ternyata kita kalah dengan dinding ego yang terbangun selama ini, kita memilih jalan masing-masing dengan saling merelakan.

Untuk yang terakhir kalinya, aku mengucapkan maaf. Entah untuk yang keberapa kali, tapi aku merasa; akulah yang paling bersalah, aku yang paling egois dan bebal. Kamu, tidak.

Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Ini adalah kata-kata yang paling klise diucapkan oleh dua orang yang sedang saling merelakan berpisah. Meski sebenarnya tidak ada orang baik atau lebih baik, tergantung seberapa menerimanya pasangan tersebut.

Tapi aku masih keras kepala, overthinkingku lagi-lagi kumat. Tidak ada seseorang yang mudah berhenti, jika tidak ingin merubah haluan.

Dibalik rasa bersalah, aku masih membenarkan diriku. Menganggap keegoisanku beralasan.

Yah. Siapa yang tidak ingin memiliki hubungan yang berjalan baik-baik saja? Tapi bagaimana jika pada saat itu keadaan sedang menekanmu, dan membuatmu menghiraukannya? 

Bahkan dalam keadaan tersebut, aku membutuhkan kehadiranmu, setidaknya untuk menenangkanku. Aku hanya butuh pundakmu untuk bersandar. Hanya itu. Tapi ternyata, aku sendirian.

Ah sudahlah, semua itu sudah berlalu dan toh sudah berakhir juga.

Aku merasa senang telah membuatmu mengenal seluruh keluargaku, tapi setidaknya cukup aku saja, jika kamu masih belum benar-benar serius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...