Untuk sebuah hubungan yang pernah dimulai, harusnya ada kata perpisahan jika ingin melepaskan. Harusnya ada kepastian agar tak gusar akan pengakuan.
Dan hari itu benar-benar tiba, kamu berjalan dengan tegap dan tegas mengucapkan selamat tinggal. Yakinlah, aku tidak apa-apa. Aku lega akhirnya berada difase ini. Bukan karena ingin segera lepas darimu, tapi aku ingin memutuskan kemana harus berjalan.
Tulisan ini mungkin akan jadi yang terakhir kalinya menceritakanmu. Karena hari-harimu bukan tentangku lagi, begitupun sebaliknya. Dan bahkan, mungkin aku akan lupa dengan apa yang kita lalui bersama, dulu.
Ternyata kita kalah dengan dinding ego yang terbangun selama ini, kita memilih jalan masing-masing dengan saling merelakan.
Untuk yang terakhir kalinya, aku mengucapkan maaf. Entah untuk yang keberapa kali, tapi aku merasa; akulah yang paling bersalah, aku yang paling egois dan bebal. Kamu, tidak.
Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Ini adalah kata-kata yang paling klise diucapkan oleh dua orang yang sedang saling merelakan berpisah. Meski sebenarnya tidak ada orang baik atau lebih baik, tergantung seberapa menerimanya pasangan tersebut.
Tapi aku masih keras kepala, overthinkingku lagi-lagi kumat. Tidak ada seseorang yang mudah berhenti, jika tidak ingin merubah haluan.
Dibalik rasa bersalah, aku masih membenarkan diriku. Menganggap keegoisanku beralasan.
Yah. Siapa yang tidak ingin memiliki hubungan yang berjalan baik-baik saja? Tapi bagaimana jika pada saat itu keadaan sedang menekanmu, dan membuatmu menghiraukannya?
Bahkan dalam keadaan tersebut, aku membutuhkan kehadiranmu, setidaknya untuk menenangkanku. Aku hanya butuh pundakmu untuk bersandar. Hanya itu. Tapi ternyata, aku sendirian.
Ah sudahlah, semua itu sudah berlalu dan toh sudah berakhir juga.
Aku merasa senang telah membuatmu mengenal seluruh keluargaku, tapi setidaknya cukup aku saja, jika kamu masih belum benar-benar serius.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu