Langsung ke konten utama

Seseorang yang Baru

Haloo, apa kabar dunia? 
Perkenalkan, aku seseorang yang baru, 
Baru terlahir menjadi sosok yang berbeda. Berbeda karena setiap melangkah, genggaman yang nyata kini dapat aku rasakan dan tidak lagi ada keraguan. 
Seseorang yang baru, karena harus merubah seluruh aktivitas dari pagi ke malamnya sangat amat berbeda dengan kebiasaan yang dulu.
Ah semestinya bukan "harus", kata-kata itu terlalu menggambarkan bahwa aku sedang terpaksa dan tertekan menjalani diriku sebagai sosok yang baru. Padahal nyatanya, aku sedang sangat menikmati. 
Menikmati waktu ketika mataku terbuka dan kembali terpejam, ada sosok laki-laki yang sedang ada disampingku. 
Sesekali ia menatapku dalam, lalu mengecup keningku, dan menenggelamkan tubuhku didadanya yang bidang. Sungguh, aku sangat menikmati setiap detiknya. 
Bersama dengannya 24/7 ternyata tidak merubah ekspektasiku tentangnya, dengan waktu yang cukup singkat untuk kita berkenalan dan memutuskan berada dititik ini; aku kira, belum sepenuhnya aku mengenal dia. Tapi, ternyata ia masih sama seperti diawal. Meski tidak bisa dipungkiri, kita juga beradaptasi perihal banyak hal. Banyak hal hingga sesekali aku merasa lelah, begitupun ia. 

Tulisanku kini bukan tentang monster senja yang lain. Hmmm, tapi tunggu. Ternyata selama perjalananku dan bertemu dengan beberapa "orang", aku banyak menyebut mereka monster senja. Tapi sungguh definisi panggilan itu memang benar sangat cocok dengan seseorang yang bersamaku sekarang. Jika orang yang melihatnya sekeras dan menakutkan seperti monster, tapi dibalik itu ia sangat meneduhkan layaknya senja disore hari. 

Jadi, bisa dipastikan monster senjaku yang kali ini abadi. Abadi ditulisanku, dan juga hidupku. Uhuuuy, ayee ayeee. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...