Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Tentang sebuah perjalanan yang tidak mudah

Perjumpaan yang sering kali masih kurenungi. Mulai sejak kapan, sesingkat apa, sampai aku tersadar bahwa kamu benar-benar menjadi seorang imam yang berdiri selangkah didepanku, menuntunku sampai dirakaat terakhir dan salam.  Momen yang paling kusukai, adalah; ketika selesai salam, kamu menatapku dalam sembari tersenyum, mengecup kening sepersekian detik dan bersamaku merapal doa-doa baik untuk kehidupan selanjutnya.  Tuan, rasanya waktu cepat berlalu ya? Bahkan sebentar lagi, makmum-mu bukan hanya aku saja, melainkan sosok kecil yang nanti akan membuat hari-hari kita jauh lebih berwarna; tangisnya, tawanya, rengekannya. Ah, aku sangat ingin tau bagaimana sisi lain dari si Monster Senjaku. Ingin secepatnya melihat kamu merayu putrimu agar tak merajuk. Tuan, sampai pada titik ini. Aku tak lagi menunduk atas apa yang telah terjadi di belakang, bahkan aku membusungkan dada, bukan berarti sombong, melainkan bangga. Bahwa apa yang pernah terjadi dulu, tidak ada apa-apanya dengan nik...

Setelah dirayakan

Seseorang yang kini sedang tidur lelap disampingku, aku ucapkan terima kasih Tuan.  Terima kasih karena telah banyak mengusahakan untuk kebahagiaan-kebahagiaan kecilku. Sekarang aku sadar dan amat sangat yakin; ketakutanku dimasa lalu tidak pernah dan tidak akan terjadi.  Maaf untuk beberapa hal yang masih kupertanyakan, dan tidak satu dua kali aku ulangi. Maaf karena sisa masa lalu itu masih membuatku sedikit ketakutan, tapi dengan telaten kamu menjawab dan memakluminya. Tidak ada yang berubah, jawabanmu tetap sama dan pasti. Yang semakin membuatku bulat untuk mempercayai masa depan bersamamu dan malaikat kecil kita.  Ya, malaikat kecil kita yang baru saja dirayakan. Ia menjadi salah satu ketakutan masa laluku, dan ia juga yang menjadi alasanku semakin percaya akan usahamu meyakinkanku.  Kesempatan yang sempat aku ragukan, satu dibanding seribu. Aku bahkan hampir menyerah, tapi apa? Kamu terus meyakinkanku bahwa Tuhan itu adil. Tuhan akan menitipkan malaikat kecil-N...