Langsung ke konten utama

Setelah dirayakan

Seseorang yang kini sedang tidur lelap disampingku, aku ucapkan terima kasih Tuan. 
Terima kasih karena telah banyak mengusahakan untuk kebahagiaan-kebahagiaan kecilku. Sekarang aku sadar dan amat sangat yakin; ketakutanku dimasa lalu tidak pernah dan tidak akan terjadi. 
Maaf untuk beberapa hal yang masih kupertanyakan, dan tidak satu dua kali aku ulangi. Maaf karena sisa masa lalu itu masih membuatku sedikit ketakutan, tapi dengan telaten kamu menjawab dan memakluminya. Tidak ada yang berubah, jawabanmu tetap sama dan pasti. Yang semakin membuatku bulat untuk mempercayai masa depan bersamamu dan malaikat kecil kita. 
Ya, malaikat kecil kita yang baru saja dirayakan. Ia menjadi salah satu ketakutan masa laluku, dan ia juga yang menjadi alasanku semakin percaya akan usahamu meyakinkanku. 
Kesempatan yang sempat aku ragukan, satu dibanding seribu. Aku bahkan hampir menyerah, tapi apa? Kamu terus meyakinkanku bahwa Tuhan itu adil.
Tuhan akan menitipkan malaikat kecil-Nya jika kita benar-benar sudah siap, meski dengan segala diagnosa yang dilontarkan manusia. 
Sekali lagi terima kasih, Tuan. Terima kasih telah menerima banyak kekuranganku dan sabar menghadapinya. 
Banyak sekali hal baru yang perlu kita adaptasikan di kehidupan kita, yang sebelumnya hidup masing-masing dan masih mengenal hanya sekedar. Tapi kita layak bertepuk tangan dan berbangga diri bahwa; kita dapat melaluinya dan bisa saling menguatkan. 
Untuk malam ini, cukup sekian tuangan isi hati yang mengisi waktu karena tidak bisa tidur. Sembari mendengarkan nyanyian alami dari seseorang yang sedang tertidur lelap disamping. Xixixixi

15 Juni 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...