Langsung ke konten utama

Kejutan dari Tuhan

"Bilang saja kalau lo sudah nggak percaya lagi sama gue? Atau sebenarnya sudah ada cowok lain, dan nggak mau lagi pacaran hanya alasan belaka lo kan? Gue tau sifat cewek kayak lo."
Ucap laki-laki yang sedang berdiri didepan gadis, yang sama-sama memakai seragam SMA. Gadis itu terisak mendengar semua luapan amarah laki-laki didepannya.

"Aku harus bilang apa lagi sama kamu, aku percaya sama kamu, dan anggapan ada cowok lain itu sangat salah. Tapi aku sadar, selama ini kita sudah menanggung dosa, kedekatan kita, panggilan sayang kita, pesan-pesan kita. Itu semua seharusnya dilakukan bagi orang yang sudah bermahram Andi, aku merasa sangat berdosa, maafkan aku kalau perpisahan ini membuatmu kecewa, tapi sebaiknya ini memang harus diakhiri. Aku berharap setelah kejadian ini, kita bisa menjadi teman."
Jelas gadis dengan nama Alifah yang tertera di tagnamenya.

"Teman? Kamu kira ini mudah? Aku tidak jamin itu."
Jawab Andi yang langsung pergi meninggalkan Alifah sendirian.

Ini yang terbaik. Tertinggal dari orang yang dicintai, namun terbebas dari dosa.
Andi bukan saja laki-laki yang sudah mengalihkan perhatiannya. Namun juga cinta pertama Alifah. Gadis itu merasakan hal aneh dihatinya karena Andi, merasakan apa itu rasa bahagia saat bersenda gurau karena Andi, merasakan berbunga-bunga saat dipanggil sayang juga karena Andi. Tapi karena rasa itu juga, dia semakin jauh dengan Rabb-nya, semakin meninggalkan yang memberi rasa dihatinya.

"Kalau memang nama kita sudah tertulis di Lauh Mahfudz, kita akan dipertemukan kembali nanti, Andi."
Gumam Alifah dihatinya, menangis didalam hati.

***

-Alifah POV-

Mataku terus menelusuri setiap lorong-lorong kelas. Tidak terasa sudah lima tahun aku meninggalkan sekolahan ini, dan semua tetap sama, baik dengan bangunan ataupun tatanan bangku kelasnya.
Hari ini aku mendapat undangan reuni sekolah, dan panitia yang mengadakannya sengaja memilih tempat disekolah sebagai tempat utama para alumni sekolah SMA Negeri Setia Bakti berkumpul.

"Hai Alifah, akhirnya lo udah dateng."
Ucap Andin yang sekarang sedang menggandeng suaminya, ya suami. Reuni ini diperbolehkan mengajak pasangannya masing-masing.
Dan diantara kita berempat, yang sudah menikah adalah Andin dan Feby, sedangkan Kaila masih sibuk mempersiapkan pernikahannya, dan sekarang dia juga sedang menggandeng calon suaminya itu.

"Oh ya Al, ada seseorang yang mau ketemu sama lo."
Ucap Feby.

"Siapa?"
Tanya Alifah sembari mengernyitkan alisnya.

"Udah, lo temui aja dipinggir taman, lo masih inget tempatnya kan?."
Ucap Kaila.

"Iya gue inget, kalau gitu sebentar ya, gue tinggal dulu."
Aku mulai melangkahkan kakiku kembali ketaman sekolah, tempat yang baru saja aku lewati, disana juga banyak alumni yang saling sapa atau bahkan saling bercanda mengingat masa SMA, dimana masa itu adalah masa para anak sekolah yang paling indah. Aku masih melangkahkan kakiku, menelusuri lorong sendirian. Ya, aku masih sendiri, sejak masa kelulusanku, sejak laki-laki yang aku ingat sekali begitu marah denganku karena menurutnya sebuah alasan yang tidak masuk akal, membuat hubungan yang hampir dua tahun berakhir begitu saja. Itu terakhir kalinya aku dekat dengan kaum adam, selama ini, laki-laki yang dekat denganku tidak lebih dari kata teman.

Kini langkahku sampai dipinggiran taman. Mataku masih menelusuri setiap sudut taman, mencari seseorang yang sedang menungguku. Namun tidak ada seorangpun yang terlihat sedang menunggu.

"Alifah."
Suara bariton tiba-tiba terdengar dari arah belakangku.
Aku segera membalikkan badan, mencari sumber suara yang tidak pernah aku kenali.

"Andi."
Ucapku ketika yang kulihat adalah laki-laki yang entah aku anggap apa hari ini. Rasanya menemuinya untuk yang pertama kali setelah lima tahun tidak berjumpa, bahkan dengan kesan yang saling membenci, membuatku sedikit gugup.

Dia tersenyum, simpul. Dan Ya Allah, laki-laki itu masih berhasil membuatku bersikap aneh.

"Apa kabar?"
Tanyanya, ternyata suaranya berubah. Ataukah aku yang sudah lupa dengan suara khasnya ini.

"Baik."
Jawabku singkat. Aku ingin cepat lari dari tempat ini.

"Kamu masih terlihat cantik, apalagi dengan hijabmu."
Ucapnya. Ya, dulu sebelum akhirnya kita berpisah, aku masih belum berhijab.

Aku tersenyum menanggapi pujiannya.

"Terimakasih."
Ucapku.

"Dimana pasanganmu?"
Tanyanya. Satu hal yang kembali mengingatkanku dimasa lalu.

Aku menggeleng pelan sembari tersenyum kearahnya.
Wajah laki-laki itu berubah, entah apa yang dia rasakan.

"Kamu masih sendiri?"

Aku mengangguk.

"Sejak hubungan kita berakhir?"

Aku kembali mengangguk.

"Aku kira..."

"Kamu kira semua alasanku dulu hanya akal-akalanku untuk putus denganmu kan?"
Aku tersenyum, memberi jeda.
"Sekarang kamu percaya?"

Laki-laki itu diam.

"Aku, aku minta maaf. Aku fikir kamu dulu sakit hati karena sikapku, dan kamu tidak mau menerimaku lagi. Tapi alasanmu untuk sendiri, ternyata benar."
Ucap Andi.

Aku tersenyum.

"Setidaknya aku dulu pernah meminta kita menjadi teman."

"Dan aku menolaknya. Meninggalkanmu sendirian, dan membencimu sampai sekarang... Tapi ternyata rasaku tidak pernah berubah, aku masih menyayangimu, dan berharap kita kembali."
Ucap Andi.

Aku kembali tersenyum.

"Lalu perempuan yang tadi bersamamu, apa kamu tidak memikirkan hatinya?"
Ucapku. Ya, saat aku sampai ditempat ini, aku sudah melihat Andi dengan seorang perempuan yang cantik, cantik sekali.

"Kenapa kamu tidak pernah berubah, bermain-main dengan hubungan yang dianggap penting."
Ucapku.

Andi menggeleng.

"Maafkan aku, tapi aku berharap kita bisa kembali seperti dulu."
Ucapnya keras kepala.

"Maaf, aku tidak akan kembali menjalani hubungan yang haram dimata Allah. Aku hanya ingin laki-laki yang berani memintaku langsung didepan orangtuaku."
Ucapku, itu adalah impianku.

"Aku yang akan memintamu didepan ayah dan ibumu."
Ucap seseorang tiba-tiba dari balik tubuh Andi. Andi segera menoleh, dan bisa aku lihat siapa yang tadi berbicara.

"Kak Ariq."
Ucapku, dia adalah kakak senior. Dia mau meminangku didepan kedua orangtuaku? Laki-laki yang bahkan tidak pernah terfikir dipikiranku akan berani berbicara seperti itu. Setelah pertemanan kita yang aku anggap sekedar teman biasa.

Ya Allah, ini dia kejutanmu. Engkau hadirkan laki-laki lain yang tidak pernah ada dalam doaku, disaat laki-laki yang aku cintai hanya bisa berkata.

***

Bukan sebuah jaminan, hubungan yang bertahan lama atau rasa saling suka sejak dulu bisa menghantarkan ke kursi pelaminan, bisa saja seseorang yang mendoakanmu dalam diam hadir dengan gagahnya untuk meminangmu, meski dia bukan salah satupun orang yang ada dalam doamu.

~

Cerpen yang aneh ya, tapi entahlah kenapa aku pengen bikin cerita beralur seperti ini. Mungkin karena aku berharap ada laki-laki seperti Ariq. Hueheee~

Regards ❤

Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...