Kamu, tetap kamu. Dan kamu tetap kamu, coba saja kamu berubah menjadi dia, atau aku? Dia atau aku yang mempunyai hati rapuh tak sekuat karang. Baiklah, aku tidak tahu dia, aku tidak mengenal dia, dia yang berhasil mengambil simpati dan hatimu, cantik dan mungkin saja dia lebih kuat dariku, aku bersyukur kalau begitu, dengan itu dia tidak akan merasakan rasanya sakit saat melihatmu seperti ini.
Tuan hujan, kamu selalu meneduhkan hatiku, selalu, bahkan sampai saat ini. Tapi kenapa kamu datang selalu dengan petir. Selalu saja, ada yang berhasil menyakitiku.
Kamu kembali datang dengan rasa rindu untuk kesekian kalinya, dan dengan bodohnya aku yang selalu terjatuh didalam rasa itu, kembali mengenyam rasa sakit yang dulu berusaha aku hilangkan sejauh-jauhnya. Tapi kali ini, aku belajar secerdas dari kebodohanku, aku tidak akan membiarkanmu kembali pergi dengan rasa rindu yang terobati. Karena sampai kapanpun, aku hanya tempatmu pulang, tapi tidak untuk tempatmu menetap. Carilah seseorang yang tepat bukan hanya untuk tempatmu menetap, tapi juga untukmu tempatmu pulang.
Tuan hujan, coba saja kamu setia dengan satu orang, cukup satu orang.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu