Langsung ke konten utama

Jingga sayang Senja

Senja, Jingga sayang Senja.
Apakah kamu tau, Senja. Setiap tulisanku terbesit tentang, sikapmu, sifatmu, atau bahkan bayanganmu.
Kamu bukan masa laluku, kamu bukan cerita lamaku yang masih kuharapkan, kamu pun bukan bagian hidup yang harus kulupakan. Kamu adalah sebagian cerita hari-hariku sekarang, kamu ada, aku pun ada. Senja ada, Jingga pun ada.
Kehadiranmu cukup membuatku bersemangat setiap menjalani semuanya. Terdengar lucu ya, mungkin untukmu. Karena kita hanya seorang teman. Tak lebih dan tak kurang. Dan naasnya dalam status itu lah aku terperangkap, mencintai yang tak tau, mengharap yang tak pasti, Jingga cukup mengerti dimana posisi sebenarnya. Aku hanya berada diantara para teman Senja, yang tak mungkin bisa mengharap lebih perasaannya.
Tapi dengan itu aku bersyukur, kamu mau bicara denganku, meski dalam bahasan kita tak pernah membicarakan soal hati, hatiku dan hatimu yang sebenarnya. Cukup membicarakan kabar dan kebanyakan saling melempar olokan lah diantara pembicaraan kita. Lucu, ya setidaknya aku bisa menikmati wajahmu cukup lama, memperhatikan perubahan-perubahan ekspresi yang suka membuatmu gemas sendiri, semengagumkan itu kah si Senja? Ya, tentu. Coba kamu tanya seantero sekolah, pasti mereka akan menjawab Senja lah yang paling mengagumkan dalam tiga tahun ini. Kulitnya tak terlalu putih, namun itulah yang membuatnya semakin mempesona banyak gadis.
Cukup sebagai teman bisa membuatku menjadi bagian dari barisan orang terpenting dihidupnya, dibandingkan para gadis yang mencoba mengejar cintanya.
Ya, teman. Cukup jadi teman. Karena aku hanya bisa melakukannya sampai disitu. Aku terlalu takut mengungkapkan segalanya, yang akan menciptakan jarak diantara Senja dan Jingga.

Aku sadar, Senja mungkin tak akan pernah mencintai Jingga.

Cerita baru dengan genre teenfiction, yaa semoga ada yang suka dengan kegalau-an yang kadang membuat hidup Jingga sangat lah miris.

Saat Senja tak lagi Jingga

Regards
Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...