Senja, Jingga sayang Senja.
Apakah kamu tau, Senja. Setiap tulisanku terbesit tentang, sikapmu, sifatmu, atau bahkan bayanganmu.
Kamu bukan masa laluku, kamu bukan cerita lamaku yang masih kuharapkan, kamu pun bukan bagian hidup yang harus kulupakan. Kamu adalah sebagian cerita hari-hariku sekarang, kamu ada, aku pun ada. Senja ada, Jingga pun ada.
Kehadiranmu cukup membuatku bersemangat setiap menjalani semuanya. Terdengar lucu ya, mungkin untukmu. Karena kita hanya seorang teman. Tak lebih dan tak kurang. Dan naasnya dalam status itu lah aku terperangkap, mencintai yang tak tau, mengharap yang tak pasti, Jingga cukup mengerti dimana posisi sebenarnya. Aku hanya berada diantara para teman Senja, yang tak mungkin bisa mengharap lebih perasaannya.
Tapi dengan itu aku bersyukur, kamu mau bicara denganku, meski dalam bahasan kita tak pernah membicarakan soal hati, hatiku dan hatimu yang sebenarnya. Cukup membicarakan kabar dan kebanyakan saling melempar olokan lah diantara pembicaraan kita. Lucu, ya setidaknya aku bisa menikmati wajahmu cukup lama, memperhatikan perubahan-perubahan ekspresi yang suka membuatmu gemas sendiri, semengagumkan itu kah si Senja? Ya, tentu. Coba kamu tanya seantero sekolah, pasti mereka akan menjawab Senja lah yang paling mengagumkan dalam tiga tahun ini. Kulitnya tak terlalu putih, namun itulah yang membuatnya semakin mempesona banyak gadis.
Cukup sebagai teman bisa membuatku menjadi bagian dari barisan orang terpenting dihidupnya, dibandingkan para gadis yang mencoba mengejar cintanya.
Ya, teman. Cukup jadi teman. Karena aku hanya bisa melakukannya sampai disitu. Aku terlalu takut mengungkapkan segalanya, yang akan menciptakan jarak diantara Senja dan Jingga.
Aku sadar, Senja mungkin tak akan pernah mencintai Jingga.
Cerita baru dengan genre teenfiction, yaa semoga ada yang suka dengan kegalau-an yang kadang membuat hidup Jingga sangat lah miris.
Saat Senja tak lagi Jingga
Regards
Umi Masrifah
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu