Langsung ke konten utama

Masih dengan Jingga yang sayang Senja

Mataku menangkap senyumnya yang cukup lama tak kutemui, kedutan bibirnya yang menguarkan kebahagiaan tersendiri untukku, tak pernah membuatku bosan sedikitpun. Bagaimana denganmu? Hai monster senja.
Rasanya, satu meja denganmu, dengan kalimat yang menyiratkan rasa agar aku tetap semangat, akhirnya sampai padaku, meski sebenarnya tanpa melakukan itu pun, aku sudah sangat semangat melihat senyummu. Lucu ya. Iya, selucu itu aku jika dengan sang senja.
Terkadang, aku melihat senyumanmu berubah menjadi tawa, saat kamu sudah berhasil mengerjaiku dengan kejailan yang terkadang membuatku geli sendiri mengingatnya, tentu, apa yang tidak bisa dia lakukan jika hanya untuk merubah moodku. Dia begitu mahir atas hal itu. Tapi dia juga lebih mahir mengembalikan mood yang tadinya jelek menjadi sangat baik. Tapi tidak bisa dipungkiri, jika dia sudah mulai jail, dia begitu menyebalkan, sangat menyebalkan.
Dan naasnya, semua kejadian itu, semua peristiwa itu, diantara kita, hanya terjadi disekelumpit status yang tak ada apanya yaitu seorang teman. Ah aku tak mempermasalahkan hal itu, toh aku juga yang menginginkannya, bukannya dengan menjadi teman kita bahkan bisa saling menjaga lebih dari seseorang yang memiliki status pacaran.
Aku tak memperdulikannya, yang terpenting Jingga sayang Senja. Senja yang yang tak pernah mengkhianati Jingga, begitupun Jingga yang juga tak pernah melakukan itu pada Senja.

Senja, sampai jumpa dilain hari dengan Jingga.
Jingga akan begitu merindukanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...