Langsung ke konten utama

Ketika hati tau tempat pulang (2)

Sudah lebih dari satu minggu Aqila tidak memberi kabar sedikitpun pada Abyan, dia melupakan janjinya agar cepat kembali, ketempat dimana dia akan mudah menemukan Abyan, tapi naasnya sampai sekarang laki-laki itu tak kunjung menemukan Aqila. Bahkan pesan yang dikirimnya tidak pernah dibalas oleh gadis itu, juga telfonnya, entah itu dari WA, Line sampai BBM, semua tidak mendapat respon satupun. Sedangkan jika dikampus, saat pulang, biasanya selalu bareng, kini Abyan malah selalu dapat jawaban dari teman sekelasnya kalau gadis itu sudah pulang lebih awal. Ditambah, saat Abyan sengaja mampir kerumahnya, namun hanya jawaban bahwa gadis itu tidak sedang berada dirumah.

"Lu kemana sebenernya Qila, janji lu hanya satu minggu. Tapi sampek sekarang, lu nggak nyamperin gue disini,"

"Apa gue ngelakuin hal salah yang bikin lu kecewa? Sedangkan selama ini lu nggak pernah takut buat negur gue kalo salah.. Ada apa sebenernya? Jika memang ada yang salah, kita bisa bicarain ini semua. Apa lu lupa sama janji lu untuk bakal selalu sama gue, support gue, belain gue."
Abyan langsung terhenyak.
Dia mulai mencerna setiap kalimatnya, disetiap katanya hanya menyiratkan bahwa semua itu dilakukan oleh Aqila saja, semua, mulai dari waktunya untuk menyempatkan bisa bertemu saat Abyan mulai mengeluh karena bosan dengan pacarnya, dan meminta bantuan gadis itu merancang rencana agar bisa putus, selalu mendukung Abyan saat setiap ada pertandingan basket, hingga saat Abyan mendapat penolakan dari pacarnya yang tidak mau diputus, Aqila lah yang bela laki-laki itu, bahkan gadis itu pernah dituduh sebagai selingkuhan Abyan.

Abyan mengusap wajahnya, dan menghembuskan nafas keras.

"Mungkin, dia sudah capek bersahabat sama gue. Dengan semua masalah gue yang juga selalu jadi masalahnya."
Abyan tertawa miris.
"Gue lupa, ada saatnya dia harus pergi dari hidup gue."

Setelah menuntaskan pikiran kalutnya, Abyan berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah kayu kecil yang dulu dibuatnya saat Aqila berulang tahun, dan akhirnya menjadikan itu sebagai basecamp.

"Gue bisa tanpa lu, Qila. Lu bisa pergi sesuka hati lu sekarang."
Ucap Abyan mulai menutup pintu rumah kayu itu dari luar dan menguncinya.

"Lu bisa terusin hidup tanpa adanya gue, sebuah masalah yang malah memberatkan hidup lu. Oke, ini keputusan lu, seharusnya gue sadar ini pasti akan terjadi."
Ucap Abyan masih terus, padahal dia ingin mengikhlaskannya.

"Kenapa gue nggak bisa terima ini. Gue nggak bisa maksa Aqila tetap ada buat gue. Sedangkan gue? Dimana gue saat dia butuh. Gue egois memang, dan udah sepantasnya harus kehilangan sahabat sebaik Aqila."
Abyan menghembuskan nafas kerasnya lagi, dia masih tidak bisa berhenti. Rasa kesal, rasa sedih, rasa kecewa semua bercampur jadi satu sekarang dihatinya.

"Sahabat?"
Abyan mencoba menerka sebutan itu.

Apa benar gadis itu hanya seorang sahabat? Sedangkan rasa sedih kehilangan para kekasihnya tidak pernah sesakit kehilangan Aqila seperti sekarang.
Satu persatu gadis harus diakhiri hubungan olehnya karena rasa bosan, sedangkan Aqila yang sudah bertahun-tahun dengannya tidak pernah membuatnya bosan, padahal waktunya bersama Aqila lebih banyak dibandingkan dengan para pacarnya.

"Sahabat seperti apa sebenernya lu, Aqila? Kenapa lu bisa berpikiran untuk pergi dari gue."

Setelah mengunci pintunya, Abyan beranjak untuk pergi dengan menaiki sebuah mobil mewah. Mencoba menenangkan hatinya. Sungguh, aneh, perasaan seperti apa yang membuatnya sangat menyedihkan.

Selang beberapa detik saat mobil milik Abyan keluar dari pekarangan rumah kecil itu, Aqila datang.
Gadis itu ingat janjinya untuk datang menemui Abyan, dibasecamp mereka. Sebenarnya, dia tidak mau lagi kesana, namun membaca semua pesan Abyan, akhirnya gadis itu tidak bisa menahan diri untuk menghampiri laki-laki itu.

Aqila tersenyum kecut ketika mendapati rumah kayu itu digembok.
Gadis itu menghembuskan nafasnya keras.
"Kenapa gue masih berharap ditunggu olehnya, kan gue bukan termasuk salah satu orang penting dihidupnya. Lalu untuk apa gue ada disini?"
Aqila menahan airmatanya, yang nyatanya sudah mengalir.

"Gue harus pergi dari hidupnya, percuma kalo gue tetep memutuskan untuk berteman dengannya, toh perasaan gue malah semakin mengembang tak terkendali, meski gue pun nggak mau itu semua terjadi dihati gue."
Pikir Aqila. Kemudian dia berniat untuk berbalik, namun saat tubuhnya sempurna berbalik, gadis itu mendapati seseorang yang sejak tadi ada dalam pikirannya.

"Apa yang sudah terjadi?"
Tanya Abyan, yang kini sudah ada didepan Aqila.

"Abyan, lu ada disini."

"Ya, sejak beberapa hari sebelumnya, sejak hari dimana lu janji untuk kembali."

Aqila tersenyum sekilas.
"Gue udah kembali kan?"

"Kembali karna terpaksa."
Sahut Abyan.

"Nggak kok."

"Jangan mengelak,"
Sergah Abyan.
"Kenapa lu nggak jujur tentang semua ini sejak dulu? Ha? Kenapa lu biarin gue dalam pencarian terus-menerus, sedangkan gue belum sadar siapa yang sejak dulu sudah buat gue nyaman."

"Kenapa belum sadar? Kalo semua itu memang nggak mau lu sadari."

"Tapi sekarang gue sadar. Disetiap pencarian gue selama ini, gue tetap kembali, kembali ke lu meski sebagai seorang sahabat, tempat gue bercerita."
Jelas Abyan, membuat Aqila terhenyak.

"Denger gue Qila, hati nggak seperti mulut, hati punya kejujuran yang tulus, dimana semua yang dia rasain akan mengalir kesetiap bagian tubuh. Disaat pencarian gue yang kembali gagal, disaat itulah hati gue kembali mencari dimana lu, karna hati tau tempat pulang, yang sesunggunya."

-Ketika hati tau tempat pulang-

Helloo, end ya.
Maafkeun nggak nyambung, dan kecepetan end-nya. Kan ya namanya juga cerpen. Ada feel nggak sih bacanya? Kebawa perasaan nggak sih? Nggak kayaknya deh wkwk.

Regards.
Umi Masrifah

Komentar

  1. Ceritanya ngegantung banget kak😱 Feelnya belum dapet😌 Kasihan si Qila, baru juga ketemu sm Abyan, masa udah ending sih kak??? 😫 Teganya kakak 😭

    BalasHapus
  2. Ceritanya ngegantung banget kak😱 Feelnya belum dapet😌 Kasihan si Qila, baru juga ketemu sm Abyan, masa udah ending sih kak??? 😫 Teganya kakak 😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...