Langsung ke konten utama

Mata Hujannya

Hujan. Dingin? Sejuk? Menggigil? Mungkin akan ada salah satu yang kita pilih dari tiga keadaan tersebut saat rintikan air turun dengan pongahnya ke bumi ini.
Namun Lea tidak akan merasakan ketiga hal itu, melainkan rasa kaku, tidak saat air turun dari langit ke bumi tersebut, tapi saat mata yang terjelma dari hujan itu menghampirinya dan menatapnya dengan sendu. Lea masih kesulitan jika dihadapkan pada mata hujannya, Rayn. Yah, laki-laki itu lah yang membuatnya kesulitan bersikap normal. Terkadang dia begitu berusaha untuk mencoba, namun malah hal yang aneh terjadi.

Seperti kali ini, saat gadis itu harus bertemu dengan Rayn secara tidak sengaja. Dia mau menyapa laki-laki itu, tapi bagaimana caranya jika mereka tak pernah saling mengenal. Oh bukan mereka, tapi hanya Rayn, karena Lea mengenal laki-laki itu, bahkan sangat mengenalnya. Seperti bintang dan bulan, kedua benda langit tersebut berdampingan, namun mereka tak pernah saling menilik. Lea hanya bintang yang diam-diam mencari tau tentangnya, tapi masih ada ribuan bintang pula yang lebih berani mendekatinya. Jika sudah seperti itu, maka cinta diam lah yang lebih berpihak padanya.

"Maaf, bisa geser?"
Suara itu muncul dari arah depan. Lea yang tadinya duduk sembari melamun, membayangkan jika dia berani menyapa laki-laki itu terlebih dahulu. Tapi nyatanya, itu hanya omong kosong belaka segera mendongak untuk bisa melihat siapa yang bicara padanya tadi. Dan gadis itu pun begitu tercengang ketika sang mata hujan mengajaknya bicara, dan benar tatapannya terjelma dari hujan yang begitu meneduhkan. Hampir saja Lea meleleh melihatnya, namun segera menetralkan sikapnya.
"Maaf, kamu bisa mendengarku kan?"
Tanyanya lagi setelah melihat Lea tidak menjawab apapun, namun malah memperhatikannya.

"I-iya Kak."
Lea pun menggeser posisi duduknya ke kursi sebelah kanannya. Kemudian dengan kaku dia memfokuskan pandangannya ke depan, dimana acara sedang berlangsung diatas panggung.
Sedangkan Rayn sudah memposisikan duduknya disamping Lea. Sebenarnya masih banyak trmpat duduk, namun tempat duduk disamping Lea lah yang paling strategis, kursi depan, dan tidak ada alat-alat kamera yang menghalanginya.

"Aku nggak pernah liat kamu. Kelas berapa memang?"
Tanya Rayn yang tidak pernah terpikir oleh Lea bisa memulai percakapan antara mereka.

"Kelas sebelas IPA 4, Kak."
Jawab Lea sedikit lebih lancar, namun tidak dengan sikapnya yang masih terlihat seperti orang gugup.

"Oh."
Rayn hanya bisa berah-oh ria.
"Nama?"
Tanyanya, hanya tau kelas? Kenapa tidak dengan namanya juga.

Lea tersenyum sekilas, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Kemudian menjabat tangan Rayn yang mengulur kearahnya.

"Azalea."

"Rayn."
Balas laki-laki itu.

Tidak perlu memperkenalkan diri, aku juga sudah tau namamu. Pikir Lea.
Mereka segera melepas jabatan tangan tersebut.
Terasa sangat canggung.

"Aneh ya. Kita satu sekolah, tapi nggak pernah ketemu."
Ucap Rayn. Lea hanya tersenyum kecil.

Mungkin perasaanmu, Kak. Yang jelas, aku selalu meluangkan waktu istirahatku untuk mencarimu, meski sekilas. Pikir Lea lagi.

"Iya ya."
Jawab Lea.

"Mungkin karna kamu pendiam kali ya."
Sahutnya.

"Iya, mungkin."
Lea nyengir.

"Ada jawaban selain iya nggak? Sejak tadi, kamu ngomongnya itu mulu."
Ucap Rayn yang baru sadar sikap aneh Lea.

"Hehe, aku usahain."

"Apanya yang diusahain?"
Tanya Rayn bingung.

Rayn bingung, apalagi Lea. Dia mulai sedikit menjawab selain 'iya', tapi sekali jawab ternyata tidak nyambung.

"Mmm, lupakan saja."
Ucapnya.

"Oke. Kamu mau minum?"
Tanya Rayn, yang membuat Lea tercengang.

Aku ditanya minum? Aaaah meleleh adek bang diperhatiin gini. Hati Lea semakin ngegerutu dengan sikap Rayn yang ternyata sangat baik padanya.

"Sekalian. Soalnya aku juga mau beli minum."
Tambah Rayn. Yang langsung membuat Lea lemas lagi. Dia kira Lea benar-benar peduli dengannya, tapi apasih, dia baru saja dikenal oleh Rayn kenapa meminta lebih, masih untung ditawari nitip mimum saat Rayn membelinya.

"Mmm, apa nggak ngerepotin?"

"Sedikit sih."
Ucap Rayn sembari tertawa geli.
"Tapi nggak apa-apalah, hitung-hitung bersikap baik pada teman baru."
Tambahnya yang membuat Lea tercengang lagi. Teman baru? Apa semudah itu Rayn menganggapnya teman.
"Jadi, nitip minum apa ini?"
Tanyanya.

"Air dingin saja."
Jawab Lea. Dia merogoh saku roknya untuk mencari uang.

"Pakek uangku dulu saja."
Ucap Rayn. Kemudian laki-laki itu pun beranjak untuk melangkah kearah kantin sesudah berbicara dengan Lea lagi.
"Jaga tempat dudukku ya."

"Iya."

Waktu berlalu, hampir sepuluh menit, namun Rayn tidak juga muncul.
Setelah berpikir seperti itu, Lea terhenyak ketika sebuah tangan menyodorkan minum kearahnya.

"Ini minummu."
Ucap seseorang itu. Lea pun mengambil dengan tersenyum dan mendongak kearah seseorang itu.

"Makasih, Kak."
Ucap Lea. Namun mata hujan yang tadi ditemuinya tidak ada lagi. Pemilik mata hujan yang pergi untuk membeli minum tidak kembali. Melainkan orang lain yang membawakannya minum.

"Rayn tadi pergi sama Dira, dan dia nitipin minum ini untukmu, dia yang beliin jadi nggak usah diganti uangnya."
Jelas seseorang yang dia kenal teman sekelas Rayn.

"I-iya, makasih Kak."
Lea pun tersenyum sekilas. Baru saja dia berharap kenal lebih dekat Rayn. Berharap lebih lama memperhatikan mata hujannya. Berharap menjadi teman baru yang dikatakannya. Tapi ternyata itu semua tidak bertahan lama dengan kepergian laki-laki itu bersama Dira.

-Mata Hujannya-

Bersambung ke part 2 ya guys..

Regards
Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...