Ari dan Riana. Mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan. Ada kah suatu janji dalam ikatan akan berlanjut jika hanya mencintai, namun tidak dicintai? Jawabannya, ada. Dan itu terjadi dalam kehidupan mereka.
Ari, laki-laki pekerja keras yang diusia mudanya sudah berhasil menjadi pengusaha, ternyata telah menjatuhkan hati pada seorang perempuan, dan dialah Riana. Meski banyak perempuan yang menginginkannya, tapi yang diinginkan Ari hanyalah Riana. Hanya Riana. Hingga, semua perempuan itu iri dan ingin berada diposisi Riana.
Pernah suatu hari, perempuan dari masa lalu Ari datang. Riana sempat takut, bagaimanapun juga perempuan itu pernah mengisi hari-hari Ari, bahkan dia terlihat lebih cantik. Namun, sesungguhnya jika laki-laki sudah jatuh cinta, maka ketulusannya akan mengalahkan ketulusan cinta perempuan. Dan, dia akan menundukkan pandangannya sendiri dari perempuan selain istrinya.
"Sayang, berjanjilah untuk menjaga putri kita ya?" ucap Ari tiba-tiba, dia sedang mengantarkan Riana berbelanja. Ari selalu menyempatkan diri untuk bersama istrinya, dalam banyak kesibukan.
"Ngomong apasih kamu, Mas? Kita kan sudah sama-sama menjaga mereka." jawab Riana heran.
Ari tertawa kecil, "Iya benar, tapi bukan hanya menjaga mereka, aku juga harus menjagamu." ucapnya.
"Ah meleleh nih," ucapan Ari membuat pipi Riana berubah memerah jambu, meski lama hidup dengan laki-laki itu, Riana tetap tersipu malu setiap Ari mulai menggodanya. "Lagian, udah punya dua anak, kamu masih ngereceh aja, Mas." tambahnya sembari memukul pelan lengan laki-laki disampingnya.
"Kapan lagi seperti ini? Kamu bakalan kangen sama recehanku." ucap Ari tidak mau kalah.
"Kalo kangen mah tinggal minta direcehin sama kamu lagi lah." jawab Riana.
"Haha bisa-bisaa, terserah kamu saja." ucapnya sembari merangkul lengan Riana. "Oh ya, tadi Neysa titip minta dibeliin boneka. Kita beli yuk?" ajak Ari baru mengingat pesan putri bungsunya.
"Duh, makan aja dulu ya, Mas. Aku capek." ajak balik Riana.
Ari tersenyum, "Yasudah kita cari makan aja dulu, nanti biar aku yang beliin boneka buat Neysa. Kamu tunggu makanannya dateng aja." ucapnya. Membuat Riana tersanjung, lihat siapa yang tidak bangga memiliki suami sepertinya? Siapa yang tidak iri pada Riana? perempuan itu bersyukur mendapatkan Ari, laki-laki yang selalu mengutamakan dirinya dan putri-putrinya, tidak peduli pandangan orang lain tentangnya, jika demi keluarga.
Setelah sampai di cafetaria, dan menunggu pelayan datang. Ari mengeluarkan tasbih kecil. Tasbih yang selalu disimpannya dalam saku.
"Semoga kamu menjadi bidadariku, tidak hanya dalam dunia, tapi juga akhirat." ucap Ari lagi.
"Aamiin.. Dengar Mas, siapapun perempuannya dia akan bersyukur sekali mendapatkan suami sepertimu. Dan, aku sangatlah bersyukur, aku berjanji akan menjadi bidadari dunia akhiratmu, aku akan selalu setia untukmu." ucap Riana.
Ari tersenyum, "Aamiin Sayang, seperti dalam Fatawa Nur'ala ad-Darb, 12/58; Wanita solihah di dunia yaitu para istri, lebih baik dibandingkan bidadari di akhirat. Mereka lebih indah dan lebih dicintai suaminya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa kelompok pertama yang masuk surga itu seperti cahaya bulan di malam purnama." ucapnya. Membuat Riana memandang Ari tanpa henti, dia merasa nyaman dan melihat keindahan dalam mata laki-laki itu. Menyejukkan, dan menenangkan.
"Maaf, pesan apa Pak, Bu?" tanya pelayan yang membuyarkan pandangan Riana, Ari hanya tertawa kecil melihatnya.
"Kamu seperti remaja yang baru merasakan cinta monyet saja." bisik Ari.
"Ini namanya kagum." bisik balik Riana.
"Maaf, pesan apa Pak, Bu?" tanya lagi pelayan yang merasa dicuekin.
"Oh iya," ucap Ari. "Kamu pesan aja dulu, Sayang. Biar aku pergi beliin Neysa." tambahnya yang mendapat anggukan dari Riana, tidak lupa dia tersenyum.
Ari pun beranjak pergi ketempat dimana ada banyak boneka dijual. Sedangkan Riana sibuk melihat daftar menu.
"Orange juicenya satu,"
"Woy berhenti!" suara itu tiba-tiba terdengar seiring banyak security berlari mengejar seseorang berbaju hitam.
"Ada apa itu?" tanya Riana pada pelayan.
"Katanya ada penusukan didepan toko boneka, Bu." ucap pelayan itu.
"Toko boneka?" Riana langsung berdiri, dia langsung ingat Ari, apalagi dari tadi Ari seperti mengisyaratkan dirinya sebentar lagi akan pergi jauh. Riana segera berlari dikerumunan orang, menerobos puluhan orang yang sedang menolong korban.
"Mas." teriak Riana saat melihat banyak darah diperut korban. Namun beralih kewajah korban tersebut, ada kelegaan yang benar-benar lega, karena bukan Ari lah korbannya. "Ya Allah, bukan Mas Ari." dia membungkam mulutnya dan berjalan mundur teratur.
"Sayang," sebuah tangan menepuk pundak Riana, perempuan itu berbalik dan melihat ada Ari disana, terlihat khawatir. "Aku mencarimu. Apa kamu tidak apa-apa?"
"Aku yang harusnya nanya seperti itu, Mas." ucap Riana ingin memeluk Ari, namun seseorang menarik Ari hingga genggaman tangannya terlepas dari Riana, lalu menusuknya. Penusukan yang sangat jelas dilihat oleh Riana, dan berjalan sangat singkat, sampai untuk meraih Ari saja Riana tidak mampu.
"Ya Allah, Mas." ucap Riana berlari, lalu Memeluk Ari. Entah bagaimana nasib pelakunya, siapa sebenarnya dia Riana tidak tau motif penusukan itu.
"Sayang," Ari mengelus lembut pipi Riana, dia masih tersenyum dalam rasa sakitnya, meski dengan keadaannya yang sudah tidak baik-baik saja, Ari masih sempat memanggil Raina dengan sebutan sayang.
Raina menghamburkan dirinya kedalam pelukan laki-laki itu, dipegangnya luka tusukan yang sangat dalam. memberikan energi disetiap pelukannya agar Ari tetap kuat, namun dalam pelukannya Ari berucap lirih. "Ijinkan- aku kembali pada-Nya, Sa-yang."
"Mas, jangan bilang gitu. Aku sayang sama kamu, jangan pergi secepat ini." Raina masih menangis dalam pelukannya, dia sedikit menjauh untuk melihat mata Ari yang sudah sayu, sudah tidak ada lagi kekuatan dalam tubuhnya.
"Ikhlas-kan aku sa-yang." disuaranya yang lirih, Ari masih meminta Raina untuk mengikhlaskannya pergi.
"Laa ilaaha illallah MuhammadurRasulullah, laa ilaaha illallah MuhammadurRasulullah, laa ilaaha illallah..." suara itu sangat memekikan telinga, sampai akhirnya Ari lemas, dan berhenti mengucap syahadat.
"MuhammadurRasulullah." terusnya Raina, menyempurnakan kalimat syahadat suaminya. Dia menangis sejadi-jadinya, menyatukan dirinya dengan tubuh suaminya, semua orang yang hendak menolong ikut menyaksikan bagaimana seluruh cinta tergambar. Seorang laki-laki yang meski sedang menghadapi sakaratul maut, masih meminta ijin pada istrinya untuk pergi.
"Raina, aku akan bantu suamimu." seorang laki-laki mengambil alih Raina. Laki-laki yang dikenalnya dimasa lalu, yang pernah membuatnya sulit menerima Ari, dia adalah Rey.
Rey dan dibantu beberapa orang mengangkat tubuh Ari, sedangkan Raina? Perempuan itu, masih tertegun hingga pada akhirnya melemas lalu pandangannya menjadi kabur dan gelap.
***
"Mamaa, Papa Ma.." Rani masih belum bisa menerima kepergiaan ayahnya, dia putri sulung dari Ari dan Raina.
"Nak, sudah.. Papa akan sedih melihatmu seperti ini, kita doakan Papa agar diberi kelapangan kubur dan segala amal ibadahnya diterima." ucap Raina memeluk Rani, meski dirinya juga sangat terpukul. Tapi siapa lagi yang mampu menguatkan putrinya? Jika bukan dirinya sendiri.
"Orang yang baik dan sholeh akan masuk surga, Nak." ucap Raina lagi.
"Papa orang yang baik kan Ma?" tanya Rani.
"Tentu, Nak." Raina terisak. "Papa orang yang sangat baik."
"Sabar, Rai." laki-laki itu, Rey. Dia yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya lagi, setelah sekian lama. Menemaninya hingga pemakaman selesai.
"Kita pulang, Nak. Ayo." ucap Raina, dia tidak meladeni Rey. Dia sendiri risih karena laki-laki itu, takut persepsi tidak baik banyak orang terhadapnya.
***
Sudah tiga bulan lamanya, tapi Ari masih sangat teringat dipikiran keluarga itu. Segala keadaan mengingatkan mereka pada kenangan bersama Ari, terkadang mereka meneteskan airmata, apalagi Neysa yang masih berumur 4 tahun, setiap pagi menanyakan keberadaan Ari. Raina dan Rani tidak bisa menahan airmata tiap kala itu.
"Assalamualaikum," suara itu muncul diambang pintu, saat mereka sedang sarapan pagi.
"Waalaikumsalam." Raina menghampiri, dan menemukan Rey disana. Tidak heran, karena laki-laki itu selalu datang ke rumah Raina untuk sekedar main dan membawakan makanan.
"Aku bawakan makanan untuk sarapan." ucap Rey. Raina tersenyum mendengarnya, dia sebenarnya bersyukur ada yang memperdulikannya, apalagi orang itu Rey. Orang yang pernah dicintainya di masa lalu.
"Terimakasih, silahkan masuk." mereka pun berjalan kedalam rumah, dan menyapa Rani juga Neysa.
Setelah meletakkan makanan diatas meja makan, Rey menghampiri Raina.
"Ada apa?" tanya Raina bingung.
"Aku ingin berbicara suatu hal, tapi tidak disini." ucap Rey sembari melirik kearah Rani dan Neysa.
"Kita keruang tamu." ucap Raina.
Setelah sampai di ruang tamu, Rey menundukkan pandangannya cukup lama hingga membuat bingung Raina.
"Ada apa Rey? apa yang mau kamu bicarakan?"
Rey mendongak, "Begini, mungkin ini terlalu cepat. Tapi sudah tiga bulan kalian ditinggal oleh Ari, dan aku lihat anak-anak merasa kosong tanpa seorang ayah. Aku tidak bisa melihat kamu sendirian merawat mereka. Aku berpikir, untuk memintamu menjadi istriku, menggantikan Ari untuk menjadi ayah bagi anak-anakmu, dan suami untukmu." ucap Rey yang membuat Raina terhenyak.
"Terimakasih untuk segala kebaikanmu, dan permintaanmu. Tapi Rey, Mas Ari pernah berbicara mengenai bidadari surga yang sesungguhnya, dialah seorang istri yang ditinggal suaminya meninggal, namun tetap setia hingga mautpun menjemput. Aku ingin menjadi satu-satunya bidadari untuk dia, yang menemaninya bukan hanya di dunia tapi juga di surga. Dan aku sudah berjanji padanya. Untuk anak-anak, aku bisa merawatnya sendiri, aku juga punya penghasilan sendiri, dan kamu tidam perlu mengasihiku. Maaf. Sebelum jauh melangkah, sebaiknya aku menjelaskan ini langsung padamu. Intinya, aku tidak bisa menerimamu, Maaf." jelas Raina yang menimbulkan sesak didada Rey, tapi kelegaan dihati Raina.
Raina selalu mewanti-wanti dirinya sendiri, tasbih terakhir yang dipegang oleh suaminya akan beralih ke Raina, perempuan itu selalu membawa tasbih suaminya, agar disetiap langkahnya dia mengingat suami dan pencipta-Nya.
END
Alhamdulillah, selesai juga cerpen ini. Hfft, pengen nangis. Semoga seluruh wanita dijadikan bidadari surga yang menemani suaminya nanti di surga yaa.
Dan ini penting! Untuk para istri, yang pernah berjanji akan menjaga hati pada suaminya yang sudah meninggal, berjanji untuk tidak menikah lagi karena ingin menjadi bidadari surga, jangan pernah mengingkarinya ya, jika bukan karena terpaksa! Apalagi jika sosok suaminya seperti Ari.
Entah kenapa aku juga geram, mungkin itu hak masing-masing, tapi jangan pernah berjanji kalau ingin diingkari. Apalagi kalo sudah menikah dengan yang baru, dan menjelek-jelekkan suami lamanya yang sudah meninggal. Hai, ingat, jangan ganggu seseorang yang sudah meninggal dengan menyebut nama dan menjelaskan kejelekkannya. Biarkan beliau-beliau yang sudah meninggal tenang disana, dan jika bisa buat beliau-beliau tersenyum karena yang hidup banyak mendoakannya.
Terimakasih. Semoga ini bermanfaat dan menjadi pelajaran.
Regards,
Umi Masrifah
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu