Ku ciptakan dia dalam sebuah cerita,
Dia seorang gadis dengan kehidupannya yang penuh luka, namun tak begitu berarti daripada nikmat yang disyukurinya.
Andai, aku sepertinya. Yang tercipta begitu sempurna dengan kelapangan hati dan cintanya. Yang mengisyaratkan suatu masalah hanya dengan senyuman, tanpa keluh.
Tapi siapa kah aku? Aku bukanlah dia yang ada dalam cerita. Yang bisa meluapkan emosi dengan senyuman, mengesampingkan ego demi orang lain.
Ini lah aku, seseorang yang mampu membuat sebuah tokoh begitu sempurna, namun dirinya sendiri tidak bisa mencontohnya.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu