Langsung ke konten utama

Hijabmu

Salma melepaskan ikat rambutnya, dan meletakkannya ditas sekolah. Dia berlari kearah teman-temannya yang sedang berkumpul. Beberapa diantara mereka terlihat bahagia kala melihat gadis itu dengan rambutnya yang terurai.

"Naah gitu dong, Sal. Kan lo keliatan cantik." ucap Cindy melihat temannya itu mengurai senyum.

"Beeh, gue yakin mah si Alan bakal lebih gencar ngejar lo. Fix ini mah." sahut Velia.

"Astaghfirullah," berbeda dengan Jingga yang baru sampai, gadis itu terhenyak karena Salma lagi-lagi melepas jilbab sekolahnya. "Kenapa kamu copot kerudungnya?"

"Duh gerah, Ga. Lo tau kan, hari ini terik banget. Panasnya matahari nusuk banget."

"Terus kenapa malah kamu lepas? Kerudungmu itu bisa melindungi kepalamu dari teriknya matahari."

Cindy dan Velia mulai berdecak.

Susah kalau sudah berdebat masalah hijab dengan Jingga yang notabenenya muslimah sekali. Lengannya tersingkap sedikit saja gadis itu sudah ketar-ketir. Bahkan mereka berdua pun sering dapat tausiyah dadakan kalau saat hangout bareng pakai baju mini. Dan, si Salma langganannya karena sering lepas-pakai-lepas hijabnya.

"Akh, ayolah Jingga. Gue males debat sama lo ya, udah beribu kali dah kalo diitung, dan masalahnya itu-itu aja." ucap Salma mengambil duduk ditengah-tengah Cindy dan Velia.

Sedangkan Jingga hanya tersenyum kecut, seperti yang dikatakan Salma, Jingga sudah beberapa kali mengingatkan para sahabatnya itu untuk mentaati kewajiban sebagai seorang muslimah. Namun, Jingga selalu mendapat olokan dan kritikan balik.

"Eh, nanti keluar yok?" ajak Salma menetralisir keadaan. Dia merasa tidak enak karena bersikap kasar pada Jingga.

"Ayook."

"Cuss dah."

"Maaf, aku nggak bisa. Bunda ngajak aku ke pengajian."

Ketiga temannya mendengus kesal secara berbarengan.

"Yasudahlah." ucap Salma jengah.

***

Cahaya putih, menyilaukan pandangan Salma. Putih dan bersinar, hingga menggerakkan hati gadis itu untuk mendekat. Namun belum juga dia mendekat, cahaya itu sendiri yang menghampirinya. Dan samar-samar wajah dibalik cahaya itu terlihat.

Dan sesosok pria yang sangat dirindukannya, tiba-tiba hadir dengan wajah sedih. Pria itu membawa sesuatu ditangannya, hingga pada saat sudah dekat dengan Salma, tangannya terulur kebelakang kepala lalu berjalan kedepan wajah gadis itu. Kepala Salma terasa sedang ditutupi oleh benda halus. Disentuhnya, hingga dia sadar bahwa itu sebuah kain jilbab, berwarna putih.

Salma menatap pria itu penuh tanda tanya, namun seperti sebelumnya, pria itu hanya menunjukkan wajah sedihnya, dan tiba-tiba tersenyum ketika tangannya turun.

"Ayaaah..." belum sempat Salma berbicara dan meminta jawaban kenapa wajah ayahnya bersedih, namun pria itu sudah menghilang bersama cahaya putih, dan dalam sekejap Salma terbangun.

Keringatnya turun dari dahi cukup banyak, ternyata mimpinya menguras energinya. Dan baru disadarinya, airmatanya juga ikut turun.

"Ya Allah, kenapa dengan Ayah." Salma benar-benar gusar, dia langsung bangkit dari ranjang dan pergi ke kamar ibunya, lalu memeluk wanita itu. Ibunya pun dibuat bingung oleh sikap putrinya.

***

Pagi pun beranjak, dan Salma masih terdiam di ranjang nya. Mimpi malam itu benar-benar mengusik pikirannya. Hingga untuk melakukan apapun, Salma jadi enggan. Rasanya ingin sekali bertanya pada ibunya mengenai mimpi itu, tapi Salma selalu menjaga perasaan wanita itu, dia tidak mau ibunya akan bersedih dan teringat lagi pada Ayahnya. Jadi; Salma menyembunyikan kejadian malam itu, mungkin tidak pada ibunya dia memberitahu.

"Saaal, ada Jingga diluar." ucap ibunya dari luar. Salma pun terhenyak dan melihat jam weker yang ada dinakasnya. Jam tersebut menunjukkan pukul 06:25, waktu yang tidak sangka oleh gadis itu.

"Iya buuu."

Sepersekian menit saja, gadis itu sudah rapi. Yang pasti, dia tidak lupa persediaan minyak wangi di tas nya.

"Maaf, nunggu lama Ga." ucap Salma saat sudah berada diluar dan mendapati sahabatnya itu duduk di kursi yang ada di teras.

"Akh, gak papa." jawab Jingga dengan santai nya sembari berdiri. "Sudah seperti biasanya kan?" godanya lagi.

"Isssh lo mah." Salma mencebik kesal.

"Eh, Tante," Jingga mencium pundak tangan ibunya Salma. "Kami berangkat dulu ya, Assalamualaikum."

Salma mengerjap, dia sadar, sejak berangkat dengan Jingga atau bisa dikatakan sejak dijemput oleh sahabatnya itu, Salma jadi ikut mencium tangan ibunya saat berpamitan. Padahal biasanya gadis itu langsung berangkat setelah mengucap salam.

"Jadikan restu orang tua yang melindungi kita diperjalanan, Sal. Karna kamu tau sendiri, restu orang tua juga restu Allah."
Ucapan Jingga lah yang merubah aktivitas paginya selama ini.

"Assalamualaikum, Bu." dan Salma pun ikut berpamitan dengan mencium tangan ibunya.

"Waalaikumsalam." jawab wanita itu.

Lalu kedua gadis itu berbalik untuk menuju motor matic milik Jingga.

"Mmm, Ga. Gue boleh tanya nggak?" tanya Salma sembari membenahkan kerudungnya yanh sedikit melorot kedepan.

"Boleeh dong. Apaa?" gadis disampingnya sangat antusias.

"Mmm, nanti aja deh kalo di motor." ucap Salma lagi. Apakah dia harus menceritakan mimpinya itu pada Jingga?

Saat mereka sudah sampai motor dan menaikinya, lalu melaju menembus kabut yang masih tersisa karena mendung dan gerimis. Akhirnya Jingga ingat Salma yang ingin bertanya padanya.

"Oh ya, tadi katanya kamu mau tanya sesuatu? Tanya apa, Sal?" tanya Jingga.

"Mmm, gak papa nih?" tanya balik Salma.

"Memangnya aku pernah melarangmu bertanya?" tanya balik Jingga sembari tertawa kecil. Terkadang Salma kesal dengan sikap sahabatnya itu yang suka mengaturnya, tapi terkadang juga Salma bersyukur karena dihadirkan Jingga sebagai sahabatnya yang paling mengerti dia dan ada disaat sedih.

"Begini, tadi malam gue bermimpi Ayah datang. Wajahnya bercahaya tapi gue merasa tidak ada kebahagiaan diwajahnya. Lalu tangannya terulur, dan pada saat itu gue sadar Ayah sedang memakaikan gue kerudung. Gue bertanya berkali-kali ada apa dengan Ayah sebenarnya, tapi dia diam hingga menghilang sebelum gue sempat dapet jawaban." jelas Salma sembari mengeratkan pegangannya di pinggang Jingga. Dan Jingga pun seperti ikut merasakan kegundahan hati sahabatnya.

"Okee," Jingga mengangguk. "Sal, kita pernah dapat pelajaran ini, dan semoga kamu ingat. Quran surat Al-Ahzab ayat 59 kan menjelaskan; Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Pernah dengar tidak?"
Tanya Jingga, tidak lama kemudian Salma mengangguk dan mengiyakan.

"Kamu tau kan, Ayat tersebut menunjukkan kewajiban kita kaum wanita muslim untuk berhijab, sekaligus menjelaskan bahwa pria dalam hal ini adalah Ayah atau suami kita, wajib menutup aurat semua kaum wanita dalam keluarganya. Mungkin dalam mimpimu tersebut, Ayahmu mengisyaratkan agar melihat anaknya bisa menjadi muslimah sejati yang istiqomah dengan hijabnya." ucap Jingga.

"Afwan Sal, kalo aku jadi sok tau gini. Aku tau kamu pasti gak suka dengan sikapku ini." tambah Jingga yang tau betul bagaimana reaksi Salma setiap diberitahu.

"Nggak Ga, gue ngerasa yang lo omongin benar. Selama ini gue terlalu khawatir akan ditinggalkan teman, dijauhi Cindy dan Velia, dianggap enggak gaul, juga jujur, gue takut Alan jadi ilfeel kalo gue berpakaian kayak lo." ucap Salma. "Tapi gue lupa, harusnya gue memikirkan Ayah gue." tambahnya terdengar sangat menyesal.

Jingga mengelus tangan Salma yang berada di pinggang nya, "Aku senang kalo kamu mau menutup aurat dan beristiqomah, karena tidak ada alasan seorang muslimah untuk tidak menutup auratnya, kepala kita, rambut kita termasuk aurat dan wajib untuk ditutupi. Bismillah, kamu pasti bisa Sal."

***

"Eh mana sih Salma? Lama banget, keburu malem ini." gerutu Velia sembari celingukan, matanya menelusuri rumah sahabatnya itu, sedangkan Cindy dan Jingga terduduk santai dipelataran sembari menunggu ibunya Salma memanggil anak gadisnya.

"Sabar, Vel." ucap Jingga.

"Bocah itu emang selalu bikin nung-" Velia terdiam, karena posisinya yang berdiri tepat didepan pintu, dia lah yang pertama kalinya melihat pemandangan itu.

"Afwan, menunggu lama." suara itu muncul dengan seorang gadis yang berbalut gamis berwarna tosca dengan kerudung syar'i nya. Membuat Cindy yang baru melihatnya juga tercengang.
Sedangkan Jingga yang sudah tau hal itu karena menjadi tempat curhat Salma tidak heran dan malah mengembangkan senyum lebarnya.

-

Carilah seseorang yang bisa membawamu dalam kebaikan, setidaknya yang selalu mengingatkanmu jika salah.
Dan jagalah hijabmu, bukan semampu dan sebisamu, tapi seumur hidupmu, karena berhijrah itu mudah, namun istiqomahnya lah yang susah.

Gresik, 25 November 2017
Regards

Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...