Langit pun mengeluarkan buihnya,
Tak dapat lagi menahan rasa yang dienyahkannya,
Apa kabar denganku?
Seakan mewakili rasaku,
Langit tak senggan untuk jujur.
Jujur pada bumi,
Bahwa tak ada lagi yang bersemi,
Tak ada lagi,
Sejak semuanya berubah menjadi awan gelap tak berpelangi.
Bumi pun akhirnya menyadari,
Bahwa langit sedang bersedih,
Bersedih yang tak berarti,
Karena semua sudah terjadi.
Kenapa?
Kenapa langit tak juga menerima,
Dengan kenyataan yang sudah didepan mata,
Harusnya langit menyadari itu semua.
Langit,
Kamu yang mengertiku,
Menjadikanku gambaranmu,
Menolongku saat tak tahan lagi dengan rasaku,
Menjadikan buihmu penutup airmataku.
Aku pernah menangis,
Dan langitlah yang menutupinya,
Sekarang aku menangis lagi,
Dan langit masih mau menutupinya.
Seakan tak lelah,
Meski cukup banyak aku mengeluh,
Meski akhirnya menahan itu terasa sakitnya,
Dan langit tak pernah memprotes,
Lagi lagi dengan ketulusannya,
Dia peduli pada kesedihanku.
Baiklah, sekarang,
Pada langit,
Ku pinta lewat kata,
Padamu yang baik memikirkanku,
Jangan mengikuti kata hatiku,
Jangan bersedih sama halnya denganku,
Jangan menjadikanku gambaranmu,
Jangan lagi.
Jangan menutupi kesedihanku yang tak berarti,
Biar aku mempertanggung jawabkan kesedihanku,
Sendiri tanpa ada yang menyembunyikannya.
Cukup sering kamu menutupi kesedihanku,
Jangan lagi langit.
Jangan.
Makasiih
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLangitnya baik😂
BalasHapussampe mendung ya hhe
BalasHapusIya, sampek ujan terus😂
BalasHapushaha anak langit
BalasHapusJadi sinetron😂
BalasHapusber episode dong wkwk
BalasHapusiya dong wkwk
BalasHapusAl Baqarah 107
BalasHapus