Langsung ke konten utama

Jangan lagi langit

Langit pun mengeluarkan buihnya,
Tak dapat lagi menahan rasa yang dienyahkannya,
Apa kabar denganku?
Seakan mewakili rasaku,
Langit tak senggan untuk jujur.

Jujur pada bumi,
Bahwa tak ada lagi yang bersemi,
Tak ada lagi,
Sejak semuanya berubah menjadi awan gelap tak berpelangi.

Bumi pun akhirnya menyadari,
Bahwa langit sedang bersedih,
Bersedih yang tak berarti,
Karena semua sudah terjadi.

Kenapa?
Kenapa langit tak juga menerima,
Dengan kenyataan yang sudah didepan mata,
Harusnya langit menyadari itu semua.

Langit,
Kamu yang mengertiku,
Menjadikanku gambaranmu,
Menolongku saat tak tahan lagi dengan rasaku,
Menjadikan buihmu penutup airmataku.

Aku pernah menangis,
Dan langitlah yang menutupinya,
Sekarang aku menangis lagi,
Dan langit masih mau menutupinya.

Seakan tak lelah,
Meski cukup banyak aku mengeluh,
Meski akhirnya menahan itu terasa sakitnya,
Dan langit tak pernah memprotes,
Lagi lagi dengan ketulusannya,
Dia peduli pada kesedihanku.

Baiklah, sekarang,
Pada langit,
Ku pinta lewat kata,
Padamu yang baik memikirkanku,
Jangan mengikuti kata hatiku,
Jangan bersedih sama halnya denganku,
Jangan menjadikanku gambaranmu,
Jangan lagi.

Jangan menutupi kesedihanku yang tak berarti,
Biar aku mempertanggung jawabkan kesedihanku,
Sendiri tanpa ada yang menyembunyikannya.

Cukup sering kamu menutupi kesedihanku,
Jangan lagi langit.
Jangan.

Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...