Kamu, yang kutemui pertama kali dengan tatapan meneduhkan. Menggiringku untuk berasumsi bahwa cukup dengan melihatmu, aku bisa berdamai dengan waktu.
Waktu yang nyatanya hanya berkompromi dengan jarak, tidak denganku.
Mereka saling berbisik untuk menjauhkanmu dariku, membawa jauh si pemilik tatapan meneduhkan, hingga untuk kuraih pun menjadi sangat mustahil. Dan tabu dimata yang lain.
Tapi, ketika aku mulai memejamkan mata, coba merelakan yang memang tak direstui oleh waktu, sesosok bayangan berlari dari kejauhan. Berlari dengan sekuat tenaga, sampai suara napas yang tersendat-sendat pun terdengar jelas. Sangat jelas, bersama kamu dengan wajah letihmu. Namun tidak pernah merubah tatapan meneduhkan itu.
Tatapan yang hanya dimiliki satu orang, yaitu kamu.
Cukup lama kamu mengatur napas, aku tau betul kamu pasti lelah, karena waktu benar-benar menyeretmu sejauh mungkin. Dan sekarang aku hanya bisa memperhatikanmu, menatap seseorang yang kuanggap mustahil untuk datang menjemputku. Rasa tidak percaya masih menyelimuti alibiku, bagaimana mungkin dia berperang dengan waktu? Hingga dapat melarikan diri.
"Bagaimana caranya kamu kembali?" Rasa ingin tahuku mengalahkan kepedulianku terhadapmu, yang harusnya kuberi minum atau setidaknya mengajak kamu duduk dan beristirahat.
"Dengan segala cara, karena aku tidak pernah ingin meninggalkanmu." Napasnya mulai teratur, dan mengembangkan senyumnya yang manis, hal itu juga yang membuatku selalu nyaman denganmu. Senyuman seperti gula dalam madu. Semanis itu.
"Bolehkah aku meleleh sekarang?" Ujarku setiap kali kamu mulai sok puitis.
"Apa kamu tidak mau mengajakku duduk? Aku kelelahan melawan waktu." Ucapnya dengan wajah yang lesu. Aku tau sekali bagaimana pengorbananmu keluar dari kekangan waktu.
Kemudian kutuntun kamu untuk duduk disampingku, mengusap keringat yang mengalir didahimu. Rasanya, keringat itu terbuang dengan sia-sia, hanya untuk melawan waktu yang nanti akan kembali menghampiri kita bersama jarak.
"Lalu bagaimana dengan jarak?" Aku kembali bertanya.
"Kita tidak bisa menentang keduanya, yang aku mampu hanya bertahan, kembali dan kembali lagi. Sampai kamu yang memintaku untuk menyerah, pergi dan tidak kembali." Kalimatmu penuh penegasan, memperjelas bahwa aku lah patokan dari segalanya yang kamu lakukan saat ini.
"Aku mau kamu tidak menyerah. Aku mau kamu tetap disini. Kita melawan waktu dan jarak bersama-sama."
Dan sebentar lagi, kita yakin, waktu aku akan kembali dan memisahkan kita, membentangkan jarak diantara kita. Tapi kita juga yakin, meskipun tidak dapat mengalahkan keduanya, tapi kita bisa melawannya.
pindah thread ah :D
BalasHapusDuh😂
HapusCieeee hha
HapusApasih? Wkwk
HapusLangganan ada tagihanya gak ni?
HapusHaha. Nggak ada mah. Free mas
HapusMasa? Coba langganan di punyaku haha
HapusApa alamatnya mas?
HapusIndonesiaaction.blogspot.com
HapusUpdate dan bagusan punyamu tapi haha