Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Menanti dan takdir

Menantimu sama halnya dengan penantian senja untuk malam. Sedetik akan bertemu, tapi garis takdir memisahkannya. Memberi dimensi jarak yang tak bisa dilewati. Menguarkan warna jingga menjadi gelap tak berwarna. Mengapa? Sulit menyatukan, sedang takdir terus merencana. Rencana yang tak bisa dilihat mata, didengar telinga, dan disentuh tangan. Hanya hati, yang dapat merasa, meski harus nelangsah. Takdir yang membawaku menemukan luka, kecewa, duka, lara dan resah. Dan takdir juga yang membawaku untuk jatuh cinta. Seperti halnya hati, untuk apa dibuat menanti, yang tak bisa berhenti, hanya dengan mengerti. Mengerti saja tidak cukup. Karena menanti tidak butuh itu. Menanti hanya butuh seseorang yang dinantinya datang. Dengan membawa rasa yang sama, meski dinding jarak berada ditengah-tengah untuk memisahkan. Takdir tidak pernah memungkir. Dan penantian itu pun tidak akan sia-sia. Menantilah. Selagi kamu yakin, takdir akan memihakmu.

Apakah rindu kita sama?

Apa boleh aku bertanya? Mengapa kamu senang disana? Dihati dan pikiran yang selalu rapuh karena rindu. Berputar-putar layaknya jarum jam yang tak berhenti menemui tiap angka, dan hasilnya ribuan kali ia berputar, tetap saja ia akan menemui angka yang selalu sama dan tidak berubah. Sejak kapan rindu ini mencuat? Membombardir, dan menyebabkan resah yang berkepanjangan. Aku tenang, jika kamu disini. Bersama senyum pelangimu, mata hujanmu, dan kalimat menenangkan seperti halnya senja. Aku tenang, hingga aku terbuai dan larut. Mengedip beberapa kali untuk menormalkan pandanganku yang kabur karena embun bening. Kamu datang. Dengan senyum dan mata yang ku rindukan. Ku lihat tidak ada lagi sedih diwajahmu, seperti terakhir kali aku melihatmu pergi. Yang kulihat sekarang, hanya rasa rindu. Rindu yang membuatmu kembali menemuiku, untuk kesekian kalinya kamu pergi. Kenapa harus pergi? Kenapa kamu tak mau menetap? Apakah, aku akan selalu menjadi tempat singgahmu sebelum pulang? Tetap ...

Definisi Rindu

Merindu yang tak berujung, Pada siapa ku akan menghujung, Jika yang kurindu pun tak kunjung. Apa definisi rindu yang sesungguhnya? Apakah seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah? Atau kah seseorang yang berjalan didalam kabut, berputar-putar untuk menemukan jalan keluar? Atau kah seperti jam yang terus berdetak membentuk sebuah lingkaran? Benar. Semuanya benar. Atau mungkin bisa lebih dari itu semua. Definisi rindu bermacam-macam. Dan memiliki takarannya masing-masing. Rindu, seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah. Ada luka sebenarnya, ada lelah, ada cemas, dan ada juga khawatir yang berlebih. Namun manusia tidak bisa mengisyaratkannya secara langsung, apalagi makhluk pemalu dan naif yang disebut perempuan. Mereka hanya bisa memendam, menimbulkan luka, tapi terlalu hina baginya untuk mengatakan itu. Rindu menyelimuti pikiran dan hatinya, namun untuk mengungkapkan adalah sebuah hal yang mustahil. Rindu, seperti seseorang yang berjalan didalam kabut, dan tak men...

Aku hanya sebuah pohon

Aku adalah pohon, Dan kamu adalah daunnya. Aku yang berusaha berdiri dan menetap, Sedangkan kamu terus menggugurkan diri. Pergi, meninggalkanku tanpa berpikir ulang. Aku masih berdiri, Menantimu kembali, Untung kedua kali, Ketiga kali, Hingga berulang kali. Tanpa lelah meski kutau ini akan berkelanjutan dan semakin tak tau diri. Apa ini? Luka dibutakan oleh rindu, Sedikit pun tak pernah ingin kumengadu, Karena pada akhirnya aku lah yang termadu, Yang menjadi tempat singgahmu, Ketika hanya perlu. Aku hanya sebuah pohon, Yang selalu bahagia ketika daun kembali hadir. Dan selalu tabah ketika daun mulai memungkir.

Membiru hiru, Memburu haru

Aku yang jatuh, berusaha berdiri tanpa meminta bantuan dia ataupun kamu Aku yang pecah berkeping-keping, enggan meminta siapapun menyatukanku Aku yang berjalan, menembus kabut sendiri tanpa meminta siapapun menemaniku Aku yang memburu haru, Aku yang menyembunyikan luka tanpa siapapun tau. Biarlah, ini jadi ceritaku, Yang tak perlu kamu dan lainnya tau, Biarlah ini luka hilang dengan sendirinya tanpa bantuanmu. Aku tidak mau ada yang campur tangan, begitupun kamu. Aku yang membiru hiru, Menjadikanku tamengmu, membantumu bangun ketika terjatuh Menyatukanmu, ketika pecah berkeping-keping dan tak utuh, Menemanimu menembus kabut dijalanmu yang berbatu, Aku yang akan jadi temanmu, yang menyembuhkan lukamu, Meski kamu sendiri tidak akan pernah menyadari hal itu. Karena aku melakukannya dengan tulus, tanpa memintamu untuk mengerti. Baiklah, biarkan aku membuatmu nyaman hanya dengan sebagai teman. Terimakasih.