Langsung ke konten utama

Definisi Rindu

Merindu yang tak berujung,
Pada siapa ku akan menghujung,
Jika yang kurindu pun tak kunjung.

Apa definisi rindu yang sesungguhnya?
Apakah seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah? Atau kah seseorang yang berjalan didalam kabut, berputar-putar untuk menemukan jalan keluar? Atau kah seperti jam yang terus berdetak membentuk sebuah lingkaran?

Benar. Semuanya benar.
Atau mungkin bisa lebih dari itu semua.
Definisi rindu bermacam-macam. Dan memiliki takarannya masing-masing.

Rindu, seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah.
Ada luka sebenarnya, ada lelah, ada cemas, dan ada juga khawatir yang berlebih. Namun manusia tidak bisa mengisyaratkannya secara langsung, apalagi makhluk pemalu dan naif yang disebut perempuan. Mereka hanya bisa memendam, menimbulkan luka, tapi terlalu hina baginya untuk mengatakan itu.
Rindu menyelimuti pikiran dan hatinya, namun untuk mengungkapkan adalah sebuah hal yang mustahil.

Rindu, seperti seseorang yang berjalan didalam kabut, dan tak menemukan jalan keluar.
Tersesat namanya. Bukan hanya dalam hutan. Bahkan kabut pun bisa membuat tersesat.
Sebuah embun yang menjadi gas, membuatnya menjadi kepulan putih dan menghalangi pandangan. Seharusnya bisa dengan mudah keluar, namun dia menyibukkan diri mencari jalan keluar dengan terus berputar-putar.
Begitupun rindu, sadar akan hal itu, tapi tetap saja mau tersesat, tetap saja mau rindu. Terdengar bodoh. Tapi tanyakan pada perindu? Apakah mereka sebodoh itu.
Terus bergelut dengan rasa rindunya, memaksanya terus berputar dan mencemooh pikirannya sendiri yang berusaha menolong.

Rindu, seperti jam yang terus berdetak membentuk sebuah lingkaran.
Sebuah bidang yang tak mempunyai ujung, juga hanya mempunyai diameter dan jari-jari.
Terus berputar, tanpa lelah dan mengeluh. Hingga pada akhirnya akan berhenti, yaitu ketika baterainya habis.
Begitupun rindu. Memang tak berujung. Tapi memiliki masa.
Mungkin akan selalu merindu, tapi ada masanya. Yaitu, ketika kamu datang dan mengobati rindu itu. Maka segala definisi rindu, akan habis tak berbekas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...