Menantimu sama halnya dengan penantian senja untuk malam.
Sedetik akan bertemu, tapi garis takdir memisahkannya.
Memberi dimensi jarak yang tak bisa dilewati.
Menguarkan warna jingga menjadi gelap tak berwarna.
Mengapa?
Sulit menyatukan, sedang takdir terus merencana.
Rencana yang tak bisa dilihat mata, didengar telinga, dan disentuh tangan.
Hanya hati, yang dapat merasa, meski harus nelangsah.
Takdir yang membawaku menemukan luka, kecewa, duka, lara dan resah.
Dan takdir juga yang membawaku untuk jatuh cinta.
Seperti halnya hati,
untuk apa dibuat menanti,
yang tak bisa berhenti,
hanya dengan mengerti.
Mengerti saja tidak cukup. Karena menanti tidak butuh itu.
Menanti hanya butuh seseorang yang dinantinya datang.
Dengan membawa rasa yang sama, meski dinding jarak berada ditengah-tengah untuk memisahkan.
Takdir tidak pernah memungkir.
Dan penantian itu pun tidak akan sia-sia.
Menantilah.
Selagi kamu yakin, takdir akan memihakmu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu