Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Dipersimpangan itu aku melihatmu

Kemarin, aku melewati persimpangan tempatku menunggu. Inginku melupakanmu ternyata tak semudah mengingatmu dalam setiap detik. Seperti berlari dalam gurun pasir yang luas dan panas. Aku kelelahan dan tak tau arah. Bagaimana lagi caranya agar aku bisa melupakanmu? Lalu waktu itu, aku kembali melihat sosokmu. Kini kamu terlihat lebih gemuk. Kamu jauh lebih bahagia ya? Kamu masih sama, Monster Senja. Seperti pertama kalinya aku menemukanmu. Kamu selalu memalingkan wajah, dan bersikap angkuh. Kamu kira aku akan takut seperti dulu? Jika sikap manismu sudah menjadi makananku setiap hari. Apa kamu tak mengingat bagaimana kita yang dulu? Mencari suka didalam duka bersama-sama. Hanya untuk saling menguatkan. Tapi ternyata berakhir saling membiarkan. Jujur, bagaimana aku bisa membiarkanmu? Sedangkan bayanganmu saja masih menghantui ingatanku. Boleh aku berasumsi? Jika kamu juga seperti itu. Mana mungkin kamu bisa semudah itu melupakannya. Hari ini aku kembali melewati persimpanga...

Sinar diantara semak belukar

Ku melihat sesuatu yang bersinar muncul diantara semak belukar. Sejak kapan rumahku jadi banyak rerumputan? Dan kumelihatmu. Kamu datang lagi, dengan sinarmu. Disaat gelap telah menutupi segalanya, hingga semak belukar tak ku ketahui kapan tumbuhnya. Ku mengerjap, mencerna yang berusaha tak kuanggap. Kamu hadir tanpa memberi kabar, Membuatku tercengang, dan tak sadar. Sudah berapa lama kudalam kegelapan? Hingga dengan sinarmu aku gelagapan. Aku pernah coba menculikmu, Tapi kamu berusaha melarikan diri. Hingga ku menyerah dan mengasingkan diri, Dalam kegelapan yang tak kamu ketahui. Tapi kamu datang, dengan kemustahilan yang hilang.

Perempuan terakhir disepertiga malam

Hakimi aku. Salahkan aku. Benci aku. Jika dengan itu membuatmu lega dan bisa melupakanku. Apa yang mudah dari menyakiti seseorang yang sangat aku cintai? Aku kesal dengan diriku sendiri, mengapa aku terus membuatmu menunggu selama ini, mengapa aku membuatmu terus membangun harapan untuk kita. Mengapa baru sekarang aku membuat keputusan untuk benar-benar pergi dan berhenti. Dadaku sakit, kamu tau? Aku ingin menoleh dan melihatmu. Tapi aku terlalu takut, akan mengurungkan niatku yang sudah ku bangun sejak beberapa waktu ini. Tidak mudah. Dan rasanya menyakitkan. Jika boleh aku berkata, aku masih sangat mencintaimu. Jika boleh aku meminta, aku pun ingin tetap bersamamu. Jika boleh aku berharap, sepertimu, aku ingin hidup selamanya denganmu. Tapi bisakah beri aku satu alasan, apa yang bisa membuatku untuk tetap mempertahankanmu? Jika sebanyak orang didunia ini menolak kita bersama. Kita hanya berdua, dan mereka banyak. Kita hanya punya dua tangan, dan kita tidak bisa menutup sem...

Laki-laki yang pergi dipersimpangan

Setelah kepergianmu. Aku berusaha bahagia, dengan senyum yang kubuat-buat. Pantas jika kamu tertawa dari jauh melihatku sekarang. Karena, aku pembohong besar dengan topeng kebahagiaan. Sekarang aku tanya, apakah aku akan baik-baik saja setelah sekian lama menunggu dipersimpangan, dan berakhir merelakan untuk selamanya. Apakah aku akan baik-baik saja? Hm. Pernahkah kamu berpikir, bahwa aku terus merutuki kebodohanku itu? Aku menyerahkan semua harapanku terhadap satu orang, dan itu hanya kamu. Aku yakin, aku akan bahagia bersamamu. Aku akan jalani kehidupanku dengan bahagia bersamamu. Bersamamu. Kamu dengar itu? Tapi sepertinya itu tak berarti. Aku ingat bagaimana caramu memalingkan wajah untuk pergi, tanpa melihatku sedikit lagi. Bagaimana terlukanya aku waktu itu? Apa kamu berpikir? Laki-laki yang datang kemarin, seperti bukan sosok yang kukenal selama ini. Awalnya aku menganggap pemilik mata teduh datang, ternyata tak lebih hanya membawa hujan bersama petirnya. Belum sempat a...

Dipersimpangan itu kamu menyuruhku berhenti

Aku mengerjap, melihatnya datang. Setelah sekian lama aku menunggu. Dengan wajah khas hujan yang meneduhkan, aku masih jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Mencari alasan kenapa aku masih mengharapkannya, mencuri iba agar dia datang kembali. Dan benar, dia datang. Mengembangkan senyum bak pelangi terbalik dengan warna indahnya. Kembali membuatku menemukan kebahagiaan sederhana. Begitulah definisi yang sesungguhnya ketika dia datang. "Hai." Sapanya, terdengar bergetar. Entah karena apa. "Hai juga." Balasku. Jauh lebih bergetar. Kecanggungan itu melingkupi suasana hari ini. Sudah berapa lama kita tak bertemu? Sampai kita lupa cara bercakap dengan benar. Dan selama itu juga aku masih menunggunya. "Kabarmu bagaimana?" Tanyanya dengan basa-basi yang sudah umum. "Seperti yang kamu lihat. Aku masih disini. Itu artinya aku masih baik-baik saja." Tidak sepertinya, aku lebih bisa menjabarkan keadaanku. Kesal menunggu, mungkin faktor khususnya. ...

Pada sebuah waktu

Setiap hari bersamamu, bukan berarti aku bisa memilikimu. Nyatanya kamu pergi untuk sebuah waktu, yang menahanmu. Dan aku hanya bisa menunggu, sampai nanti kamu datang kembali untuk menyapaku. Merengkuh bayangmu kembali, agar bisa kumiliki. Meski kutau itu mustahil. Pada sebuah waktu, boleh aku merayumu? Agar waktunya denganku, lebih lama. Pada sebuah waktu, boleh aku meminta? Perlambatlah tiap detik, agar lebih lama. Pada sebuah waktu, bolehkah aku memilikinya? Untuk selamanya. Sehingga tanpa perlu lagi aku merayu dan meminta padamu.