Aku mengerjap, melihatnya datang. Setelah sekian lama aku menunggu.
Dengan wajah khas hujan yang meneduhkan, aku masih jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Mencari alasan kenapa aku masih mengharapkannya, mencuri iba agar dia datang kembali.
Dan benar, dia datang. Mengembangkan senyum bak pelangi terbalik dengan warna indahnya.
Kembali membuatku menemukan kebahagiaan sederhana.
Begitulah definisi yang sesungguhnya ketika dia datang.
"Hai." Sapanya, terdengar bergetar. Entah karena apa.
"Hai juga." Balasku. Jauh lebih bergetar.
Kecanggungan itu melingkupi suasana hari ini.
Sudah berapa lama kita tak bertemu? Sampai kita lupa cara bercakap dengan benar. Dan selama itu juga aku masih menunggunya.
"Kabarmu bagaimana?" Tanyanya dengan basa-basi yang sudah umum.
"Seperti yang kamu lihat. Aku masih disini. Itu artinya aku masih baik-baik saja." Tidak sepertinya, aku lebih bisa menjabarkan keadaanku. Kesal menunggu, mungkin faktor khususnya.
"Kenapa masih disini?"
"Karena sebuah perasaan tidak bisa dijabarkan dengan kata. Aku tidak bisa memberi jawaban. Tapi seperti terakhir kali yang aku katakan, menunggu bukan alasan untuk perasaan berubah."
"Perasaan itu? Apakah masih ada?"
Aku meringis, sakit ditanya seperti itu. Lalu untuk apa dipersimpangan selama ini untuk menunggunya, hujan, panas, bahkan mungkin ratusan nyamuk disana bisa mati kekenyangan. Kalau bukan karena sebuah perasaan, yang selalu akan tetap sama.
"Seharusnya kamu tidak perlu mempertanyakan."
Kulihat dia menghembuskan napasnya dengan berat, lalu menatapku. Tatapan yang masih meneduhkan, namun kali ini seperti banyak luka yang dihantamkan kedalamnya.
Luka yang membuatku ikut sakit. Ada apa ini?
"Berhentilah menungguku." Kini suaranya benar-benar bergetar, bahkan lututku pun turut bergetar mendengarnya.
Tubuhku tiba-tiba lemah mendengar ucapannya, menyuruhku berhenti setelah sekian lama ku menunggu?
Apa ini adil?
"Aku pergi, dan tidak akan pernah kembali lagi." Suaranya menyeruak, membenamkanku pada darah yang tak kasat mata. Menggoreskan pisau pada setiap sudut ucapannya.
Beraninya dia, "Semudah itu?"
"Tidak ada yang mudah, tapi ini harus terjadi. Dan kumohon mengertilah. Selamat tinggal."
Bersama ucapan selamat tinggalnya, punggungnya pergi. Dengan janjinya yang tidak akan kembali.
Mengapa dia meremehkanku yang menunggunya cukup lama?
Mengapa dia menjatuhkanku sedalam ini pada luka?
Mengapa dia menyuruhku untuk berhenti sedangkan aku masih berharap sebuah keajaiban?
Dan pada akhirnya aku mengerti hari ini, kamu datang hanya untuk pergi, selamanya.
Pergi adalah sebuah pilihan.
Dan kamu memilih itu.
Pergi meninggalkan yang sebenarnya menjadi pilihanmu menetap.
Dipersimpangan, tempatku menunggu.
Memupuskan sebuah harapan, untuk selamanya.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu