Setelah kepergianmu.
Aku berusaha bahagia, dengan senyum yang kubuat-buat.
Pantas jika kamu tertawa dari jauh melihatku sekarang.
Karena, aku pembohong besar dengan topeng kebahagiaan.
Sekarang aku tanya, apakah aku akan baik-baik saja setelah sekian lama menunggu dipersimpangan, dan berakhir merelakan untuk selamanya. Apakah aku akan baik-baik saja? Hm.
Pernahkah kamu berpikir, bahwa aku terus merutuki kebodohanku itu?
Aku menyerahkan semua harapanku terhadap satu orang, dan itu hanya kamu.
Aku yakin, aku akan bahagia bersamamu. Aku akan jalani kehidupanku dengan bahagia bersamamu. Bersamamu. Kamu dengar itu?
Tapi sepertinya itu tak berarti. Aku ingat bagaimana caramu memalingkan wajah untuk pergi, tanpa melihatku sedikit lagi. Bagaimana terlukanya aku waktu itu? Apa kamu berpikir?
Laki-laki yang datang kemarin, seperti bukan sosok yang kukenal selama ini. Awalnya aku menganggap pemilik mata teduh datang, ternyata tak lebih hanya membawa hujan bersama petirnya. Belum sempat aku meneduh, tapi aku sudah tersambar petir, dan pecah berkeping-keping.
Entah, kemarin itu yang datang, kamu yang sebenarnya atau tidak. Tapi ku yakin, seseorang yang ku kenal selama ini tak pernah menyakitiku dengan cara seperti ini.
Bolehkah aku masih berharap padamu? Meski ku benar-benar mendengarmu berkata berhenti.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu