Dari dalam palung, aku merangkak menuju cahaya. Berharap yang kugapai adalah mentari. Namun ketika sejengkal jarakku dengannya, ia hanyalah kunang yang hilang bersama malam.
Mengapa, ketika setiap usahaku tertuju padanya, berakhir dengan sayatan luka yang ternyata sudah menganga lebar.
Aku tak pernah sadar, ketika usahaku meraihnya, duri telah melukai, pisau telah menikam, dan ribuan beban telah menahan.
Aku tak pernah sadar. Karena di depan mataku, yang ada hanyalah angan berbahagia dengannya, mengurai senyum dan dekapan, mengikat satu sama lain, juga enggan melepas genggaman meski deretan duka coba mengusik.
Tapi pada kenyataannya, saat aku berusaha menghilangkan jarak, ia tak melakukannya.
Saat aku menyingkirkan kerikil, ia menghiraukannya.
Dan saat aku memintanya menetap, dengan lembut ia menolaknya.
Saat yang seharusnya aku mendapat pengakuan, ternyata hanyalah harapan yang terabaikan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu