Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

(E)legi Menjelma Selesa

 Ketika meyakini bahwa hitam putih akan berwarna, yang hampa akan riuh oleh khalayak, dan yang hanya dipandang sebelah mata akan disambut dengan perayaan. Maka aku juga harus meyakini bahwa elegi akan menjelma selesa yang bersukaria.  Aku tak tau seberapa menyakitkannya masa lalumu, kau juga mungkin tak tau serapuh apa aku dimasa lalu. Kita hanya dua orang yang dipertemukan dalam satu waktu, yang sebelumnya sekedar mengenal, menyapa hanya sebatas "pagi". Kini perlahan merubah haluan menjadi "kita". Tak lepas tangan Tuhan yang mengatur. Acapkali aku menahan diri agar tak terlalu berharap, manakala kau berusaha meyakinkanku tentang sebuah ikatan. Tapi aku tetap terjatuh oleh pesona ketulusanmu. Entah sebenarnya kau ini siapa, hingga semudah itu membuat keputusan untuk bersamaku.

(N)anti Tangan Inilah Yang Aku Genggam

"Nanti kau akan tau, seberapa banyak kau menempati ruang dihati. Tunggu, sampai aku datang ke rumah dan memintamu pada kedua orang tuamu." Suara itu terdengar lembut melewati gendang telinga dan mampu dibaca oleh hatiku dengan mudah, nafasnya berhembus mengelus daun telinga yang membuatku merinding. Bukan karena betapa seksi suaranya, tapi karena ia telah mengajukan diri untuk berkomitmen denganku, setelah banyaknya lukaku yang ia terima. Perempuan mana yang tak jatuh ketika mendapatkan tawaran sebuah kepastian seperti ini? Aku tak kunjung menjawabnya, dan ia mengulangi lagi ucapannya. "Apa kau masih ragu?" tanyanya yang kini mengalihkan pandanganku. Kutatap kedua matanya yang indah, dari bola matanya terpantul diriku yang sedang berkaca. Disana aku melihat perempuan yang tak sempurna, dengan bekas luka yang menganga lebar. Sangat menjijikan. Bahkan aku tak berani untuk bercermin. Tapi seseorang yang sedang menatapku dengan kedua bola matanya itu, menikmati wajahku ...

(J)ika Tuhan Menciptakan Malaikat Berbentuk Manusia

Langkahku tak lagi menapaki jalanan yang terjal dan berkelok, kini fasenya aku berada diudara yang melambungkanku bersama luka yang satu persatu jatuh ke tanah. Terlihat darah bercucuran mulai mengering, burung-burung menyanyi merdu mengiringi aku yang semakin terbang makin tinggi. Indah memang, namun rasa takutku semakin besar juga. Melihat kebawah yang kini rumah-rumah mulai terlihat hanya sekecil semut, terjatuh akan menghancurkan tubuhku seketika. Aku memandang seseorang yang sedang merangkulku, yang tadi sempat menyembuhkan lukaku, ia berjanji akan membawaku ke tempat yang indah, yang hanya akan ada kebahagiaan disana. Aku semakin takut akan harapan yang ia berikan, benar-benar nyata atau hanya ilusi? Tuhan tidak pernah menyebutkan ada malaikat-Nya yang berbentuk manusia, namun kini aku sedang berhadapan dengannya. Siapa dia? masih menjadi pertanyaanku hingga sekarang.

(A)ku Menyebut Ini Takdir

Ketika aku sedang berlari kencang, membelah udara yang menyayat tiap bagian kulit, berusaha pergi dari pertanyaan kenapa dan mengapa. Seseorang menghentikanku dipertengahan jalan, menawariku minum dan istirahat sejenak. Terdengar menggiyurkan, tapi aku sudah beberapa kali melakukan itu, dan pada akhirnya membuatku malah lemah dan terjatuh tiap berlari. Mereka hanya menawariku, tanpa benar-benar memberiku minum atau tempat istirahat, setelah melihat lukaku yang lebar dan menjijikkan. "Silahkan beristirahat dulu," Ucap seseorang didepanku, ia menatapku dengan teduh, sama seperti orang-orang yang sebelumnya menawariku, aku bisa memakluminya dan aku sudah terbiasa. "Tidak, terima kasih." Ucapku, mengapa aku menolak? setelah membaca kalimat sebelumnya, harusnya jawaban 'tidak' sudah mewakili alasanku. "Aku ingin menyembuhkan lukamu juga." Tambahnya yang membuatku terperangah, aku menilik tubuhku yang penuh luka menjijikan, dan seseorang didepanku masih ...