Ketika meyakini bahwa hitam putih akan berwarna, yang hampa akan riuh oleh khalayak, dan yang hanya dipandang sebelah mata akan disambut dengan perayaan. Maka aku juga harus meyakini bahwa elegi akan menjelma selesa yang bersukaria.
Aku tak tau seberapa menyakitkannya masa lalumu, kau juga mungkin tak tau serapuh apa aku dimasa lalu. Kita hanya dua orang yang dipertemukan dalam satu waktu, yang sebelumnya sekedar mengenal, menyapa hanya sebatas "pagi". Kini perlahan merubah haluan menjadi "kita". Tak lepas tangan Tuhan yang mengatur.
Acapkali aku menahan diri agar tak terlalu berharap, manakala kau berusaha meyakinkanku tentang sebuah ikatan. Tapi aku tetap terjatuh oleh pesona ketulusanmu. Entah sebenarnya kau ini siapa, hingga semudah itu membuat keputusan untuk bersamaku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu