"Nanti kau akan tau, seberapa banyak kau menempati ruang dihati. Tunggu, sampai aku datang ke rumah dan memintamu pada kedua orang tuamu."
Suara itu terdengar lembut melewati gendang telinga dan mampu dibaca oleh hatiku dengan mudah, nafasnya berhembus mengelus daun telinga yang membuatku merinding.
Bukan karena betapa seksi suaranya, tapi karena ia telah mengajukan diri untuk berkomitmen denganku, setelah banyaknya lukaku yang ia terima. Perempuan mana yang tak jatuh ketika mendapatkan tawaran sebuah kepastian seperti ini?
Aku tak kunjung menjawabnya, dan ia mengulangi lagi ucapannya. "Apa kau masih ragu?" tanyanya yang kini mengalihkan pandanganku.
Kutatap kedua matanya yang indah, dari bola matanya terpantul diriku yang sedang berkaca. Disana aku melihat perempuan yang tak sempurna, dengan bekas luka yang menganga lebar. Sangat menjijikan. Bahkan aku tak berani untuk bercermin.
Tapi seseorang yang sedang menatapku dengan kedua bola matanya itu, menikmati wajahku seolah pemandangan yang indah dan tak membuatnya bosan.
"Nanti tangan ini lah yang akan menemaniku dalam suka dan duka. Jangan pernah berhenti mendoakan kita ya." Ucapnya lagi.
Aku bahkan lupa kapan terakhir seseorang menamai diriku menjadi kita, yang jelas kali pertama ini aku mendengarnya setelah sekian lama.
Dan sampai sekarang, aku masih belum tau siapa kamu. Apakah benar Tuhan menciptakan Malaikat-Nya berbentuk manusia?
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu