Ketika aku sedang berlari kencang, membelah udara yang menyayat tiap bagian kulit, berusaha pergi dari pertanyaan kenapa dan mengapa. Seseorang menghentikanku dipertengahan jalan, menawariku minum dan istirahat sejenak.
Terdengar menggiyurkan, tapi aku sudah beberapa kali melakukan itu, dan pada akhirnya membuatku malah lemah dan terjatuh tiap berlari. Mereka hanya menawariku, tanpa benar-benar memberiku minum atau tempat istirahat, setelah melihat lukaku yang lebar dan menjijikkan.
"Silahkan beristirahat dulu," Ucap seseorang didepanku, ia menatapku dengan teduh, sama seperti orang-orang yang sebelumnya menawariku, aku bisa memakluminya dan aku sudah terbiasa.
"Tidak, terima kasih." Ucapku, mengapa aku menolak? setelah membaca kalimat sebelumnya, harusnya jawaban 'tidak' sudah mewakili alasanku.
"Aku ingin menyembuhkan lukamu juga." Tambahnya yang membuatku terperangah, aku menilik tubuhku yang penuh luka menjijikan, dan seseorang didepanku masih menatapku dengan teduh, tidak merasa jijik atau berpaling muka.
Siapa dia? kenapa ia tidak takut akan semua lukaku, bahkan jika sembuh pun luka ini tidak akan sempurna. Siapa dia?
"Berhentilah sebentar," Ucapnya meyakinkanku. Ia menuntunku menuju kursi yang terbuat dari kayu dan ban, dibalut oleh kain bludru bermotif daun.
Seseorang itu mulai menyeka lukaku yang terasa perih meski sudah mengering.
"Tidak semua orang bisa melihat kecantikanmu... bisakah kamu menetap disini denganku?" Ucapnya sembari masih mengobati lukaku, ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar aku tak merasakan sakit. Meski sebenarnya aku sudah kebal akan rasa sakit luka ditubuhku.
Aku terdiam, menatapnya dengan sangat amat dalam, berusaha mencari celah dari ucapannya tadi. Tapi entah mengapa semakin kutatap dalam matanya, aku semakin menemukan apa arti dari sebuah ketulusan.
Apa ini yang dinamakan takdir datang bukan saat kamu sudah siap, namun ketika kamu sedang terluka. Ia menjelma bak seperti malaikat, sehingga kamu tidak bisa menolaknya.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu