Langsung ke konten utama

(A)ku Menyebut Ini Takdir

Ketika aku sedang berlari kencang, membelah udara yang menyayat tiap bagian kulit, berusaha pergi dari pertanyaan kenapa dan mengapa. Seseorang menghentikanku dipertengahan jalan, menawariku minum dan istirahat sejenak.

Terdengar menggiyurkan, tapi aku sudah beberapa kali melakukan itu, dan pada akhirnya membuatku malah lemah dan terjatuh tiap berlari. Mereka hanya menawariku, tanpa benar-benar memberiku minum atau tempat istirahat, setelah melihat lukaku yang lebar dan menjijikkan.

"Silahkan beristirahat dulu," Ucap seseorang didepanku, ia menatapku dengan teduh, sama seperti orang-orang yang sebelumnya menawariku, aku bisa memakluminya dan aku sudah terbiasa.

"Tidak, terima kasih." Ucapku, mengapa aku menolak? setelah membaca kalimat sebelumnya, harusnya jawaban 'tidak' sudah mewakili alasanku.

"Aku ingin menyembuhkan lukamu juga." Tambahnya yang membuatku terperangah, aku menilik tubuhku yang penuh luka menjijikan, dan seseorang didepanku masih menatapku dengan teduh, tidak merasa jijik atau berpaling muka.

Siapa dia? kenapa ia tidak takut akan semua lukaku, bahkan jika sembuh pun luka ini tidak akan sempurna. Siapa dia?

"Berhentilah sebentar," Ucapnya meyakinkanku. Ia menuntunku menuju kursi yang terbuat dari kayu dan ban, dibalut oleh kain bludru bermotif daun.

Seseorang itu mulai menyeka lukaku yang terasa perih meski sudah mengering. 

"Tidak semua orang bisa melihat kecantikanmu... bisakah kamu menetap disini denganku?" Ucapnya sembari masih mengobati lukaku, ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar aku tak merasakan sakit. Meski sebenarnya aku sudah kebal akan rasa sakit luka ditubuhku.

Aku terdiam, menatapnya dengan sangat amat dalam, berusaha mencari celah dari ucapannya tadi. Tapi entah mengapa semakin kutatap dalam matanya, aku semakin menemukan apa arti dari sebuah ketulusan.

Apa ini yang dinamakan takdir datang bukan saat kamu sudah siap, namun ketika kamu sedang terluka. Ia menjelma bak seperti malaikat, sehingga kamu tidak bisa menolaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...