Aku masih menatap laki-laki yang kemarin baru saja berjanji akan menyebut namaku dan nama ayahku, ketika ia berikrar kabul didepan penghulu. Kalimat yang bisa diucapkan oleh siapa saja saat mengenalku, sebelum mereka tau seberapa lebar luka masa lalu.
Aku kembali mengerjap, memastikan bahwa apa yang sedang terjadi saat ini adalah benar adanya. Dia melingkarkan cincin di jari manisku, tersenyum bangga seolah sedang memenangkan sebuah penghargaan megah.Tidak ada tatapan muak atau jijik sedikitpun dimatanya, yang ada hanya ketulusan dari seorang laki-laki kepada perempuannya.
Hari ini, kamu melamarku.
membuktikan satu langkah dari kesungguhanmu.
Aku masih tidak menyangka, Tuhan mengirimkanmu secepat yang aku minta. Akh, kenapa aku masih meragukan ketetapan Tuhan. Bahkan ketika aku sudah meminta.
Ternyata jalan cerita kita masing-masing tidak mudah. Aku mengerti sekarang, Tuhan memberikan jalan yang kita lewati masing-masing untuk sendiri terlebih dahulu, tanpa saling menemukan. Hanya agar ketika kita sudah berada disatu titik temu, tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, yang ada hanya saling menerima kekurangan dan luka masa lalu.
Tuhan, lihatlah ia, ibu dan keluarga. Mereka tersenyum bersamaku hari ini.
Hari ketika ia melamarku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu