Langsung ke konten utama

Hari ketika ia melamarku

Aku masih menatap laki-laki yang kemarin baru saja berjanji akan menyebut namaku dan nama ayahku, ketika ia berikrar kabul didepan penghulu. Kalimat yang bisa diucapkan oleh siapa saja saat mengenalku, sebelum mereka tau seberapa lebar luka masa lalu.

Aku kembali mengerjap, memastikan bahwa apa yang sedang terjadi saat ini adalah benar adanya. Dia melingkarkan cincin di jari manisku, tersenyum bangga seolah sedang memenangkan sebuah penghargaan megah.Tidak ada tatapan muak atau jijik sedikitpun dimatanya, yang ada hanya ketulusan dari seorang laki-laki kepada perempuannya.

Hari ini, kamu melamarku.

membuktikan satu langkah dari kesungguhanmu.

Aku masih tidak menyangka, Tuhan mengirimkanmu secepat yang aku minta. Akh, kenapa aku masih meragukan ketetapan Tuhan. Bahkan ketika aku sudah meminta.

Ternyata jalan cerita kita masing-masing tidak mudah. Aku mengerti sekarang, Tuhan memberikan jalan yang kita lewati masing-masing untuk sendiri terlebih dahulu, tanpa saling menemukan. Hanya agar ketika kita sudah berada disatu titik temu, tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, yang ada hanya saling menerima kekurangan dan luka masa lalu.

Tuhan, lihatlah ia, ibu dan keluarga. Mereka tersenyum bersamaku hari ini.

Hari ketika ia melamarku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...