Haloo, lama tak mampir di blog tercintaku ini. coba siapa yang kangen sama aku? haha. yang kepo boleh lah, tunjukin wujud kalian dikolom komentar dibawah (kalo berani) wkwk. atau sekedar yang cuman mampir, tapi aku yakin itu adalah hal yang disengaja dan termasuk kepo. hakk, sama saja. ah sudahlah, aku mampir pasti bawa oleh-oleh, mau apa? cerpen? cerbung? kamut? atau tentangmu? hahak. oke, kali ini aku hadir dengan cerpen saja ya. Untuk kamu sang Senja, biar kamut yang mewakilimu ya.
- KETIKA HATI TAU TEMPAT PULANG-
"Qila, hapus nggak fotonya! kebiasaan banget ya lu cari masalah sama gue."
Laki-laki itu tidak ada habisnya menggertak gadis bernama Aqila, dan sayangnya gadis itu tidak memperdulikannya sama sekali.
"Mau pilih mana lu, tangan kiri apa tangan kanan?"
"tangan kanan isinya apa? tangan kiri juga isinya apa?"
Tanya Qila malah menantang.
"Tangan kanan isinya rumah sakit, tangann kiri isinya kuburan. pilih mana lu?"
Tantang laki-laki itu yang terkenal dengan nama Abyan.
"Seriusan lu? gilak, gue takut. Gue takut tangan lu bisa melar kayak gitu ya tong, sampek rumah sakit aja muat."
Dan gadis itu dengan puasnya tertawa tanpa perduli kekesalan Abyan yang sudah sampai puncak. Seharusnya gadis itu juga tau, apa hasil akhir jika dirinya berani mengerjai sahabat laki-lakinya itu. Saat itu akhirnya tiba, kepala gadis itu dengan cepat dipaksa mendarat keketiak laki-laki itu, dengan kesal Abyan membiarkan gadis itu terus ada diketiaknya, sedangkan Aqila harus menahan nafasnya sampai laki-laki itu melepaskannya. Namun karena rasa kesalnya, laki-laki itu tak juga melepaskannya.
"Udah, udah Byan, gue nyerah... oke, gue hapus fotonya, lu lepasin gue sekarang, gue nggak bisa napas, ketiak lu udah kayak air comberan baunya."
Sergah Aqila, sebenarnya hal ini adalah momen yang selalu diingatnya, bau tubuh laki-laki itu yang persis permen mint, tidak pernah dia ingin hindari. Namun apa boleh buat, dia harus bersikap acuh, meski sebagai seorang sahabat.
"Yakin lu?"
Tanya Abyan.
"Iya yakin."
Jawab Aqila. kemudian Abyan pun melepaskannya, dengan wajah yang berantakan Aqila memandang Abyan dengan kesal. Sedangkan bibir laki-laki itu berkedut, menahan tawa karena melihat ekspresi wajah sahabatnya yang lucu.
"Sudah seperti kucing kecemplung comberan."
"Ya bener, comberan yang sangat bau."
Balas Aqila. Lucu ya, dia bersahabat dengan Abyan dengan rasa lebih dari itu, dan dia juga bisa menyembunyikannya semudah itu. Mudah? siapa bilang. Belakangan ini, Aqila menghindari Abyan, karena kenyataan yang baru didapatnya. Abyan baru saja menyatakan rasanya pada gadis lain, dan naasnya Aqila lah yang membantu semua rencana itu.
Gadis itu mengakui bahwa segala cara telah dilakukannya untuk melupakan laki-laki itu, butuh waktu lama, bahkan sejak Abyan menyatakan rasanya pada gadis kedua, dan sekarang sudah gadis yang keenam, nah, dan semuanya Aqila selalu terlibat. Seharusnya gadis itu bisa mengubur perasaannya sedalam mungkin setelah melihat semua kenyataan. kenyataan bahwa Abyan tidak pernah melihatnya sebagai seorang gadis, melainkan hanya seorang sahabat. laki-laki itu tidak pernah memberi kesempatan, oh bukan kesempatan, laki-laki itu memang tidak pernah berpikir bahwa Aqila juga sama dengan para gadis yang mengejarnya, gadis yang mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Hahaha.. Udah deh, ayo mana ponsel lu. nggak ada alesan buat lu ngeyel ya."
"Oke, oke.. Tapi ada satu syarat."
"Apa? Makan gratis? Nonton gratis? atau uang bulanan."
Tanya Abyan sangat tau apa mau Aqila jika sudah mengajukan satu syarat.
"Nggak semua. Gue mau, lu jangan ganggu gue lagi."
"Apa?"
Abyan terhenyak. Bagaimana mungkin gadis itu memiliki pikiran seperti itu.
Pikir Abyan.
"Ma-maksud gue, beberapa minggu ini gue ada banyak kesibukan. Jadi kayaknya gue nggak bisa ada buat lu."
Jawab Aqila. Jujur, semua ini sudah terencana. Mungkin dengan menghindarinya adalah rencana paling cocok untuk caranya melupakan laki-laki itu.
"Tapi nggak biasanya lu nggak ada waktu. meski sesibuk apapun lu, elu masih bisa ketemu sama gue."
"Denger Byan, nggak semua waktu gue ada untuk lu, ada saatnya gue harus sendiri, dan lu sendiri. Mmm, maksudnya untuk beberapa hari ini, sendiri karena kesibukan masing-masing, lagian lu juga udah ada cewek kan? Hahah, biasanya juga gitu kan, nggak ada gue juga nggak apa-apa, kalo lu sudah sama cewek lu. Jadi cukup, jangan masang muka melas dan sok kaget gitu."
Jelas Aqila.
"Nih, foto lu udah gue hapus."
Aqila mulai menghapus foto Abyan sedang ngupil. Dan dengan cepat Aqila menekan perintah delete diponselnya.
"Sekarang, gue mau pergi. Daaah."
Dan gadis itu pun membalikkan badannya untuk cepat pergi. Dia tidak bisa menahan cairan bening yang hampir ingin meluncur dipipinya.
"Nggak Qila, tunggu."
Ucap Abyan.
"Apa lagi?"
Aqila masih tetap ditempatnya, tidak berniat membalikkan badannya untuk melihat Abyan.
"Lu nggak pernah kayak gini."
"Oh ya? kayak lu tau gue aja. Selama ini lu selalu sibuk sama temen cowok, dan gebetan lu bukan? gimana caranya lu bisa ngerti gue."
"Lu cemburu sama mereka?"
Tunggu, apa Abyan mulai peka, bahwa Aqila seperti para gadis yang disebutnya.
"Temen-temen cowok gue nggak lebih cuman nemenin gue main kok Qila, diketimbang lu, mereka nggak bisa seperti lu. Lu sahabat gue, lebih dari mereka."
Tambah Abyan.
Dibalik tubuhnya, Aqila tersenyum miris. Faktanya, Abyan tidak pernah sadar tentang perasaan Aqila, laki-laki itu tidak pernah perduli, dan tidak mau perduli. Untuk selamanya, Abyan hanya menganggap Aqila sebagai seorang sahabat (saja), tidak pernah bisa berubah.
"Ya, gue tau. Tapi gue sibuk, dan gue harus pergi."
Ucap Aqila.
"Kapan kita bisa ketemu lagi?"
Tanya Abyan.
"Lu bisa berbalik nggak? gue lagi ngomong sama lu, tapi malah dipunggungin."
"Gue buru-buru."
Bukan, sebenarnya Aqila tidak mau Abyan lihat wajahnya yang sudah memerah.
"Yaudah, kapan kita ketemu lagi, disini?"
"Gue belum tau."
"Lu harus tau, kalo lu nggak jawab, lu nggak boleh pergi."
Gertak Abyan.
"Minggu depan."
"Oke. Gue tunggu."
"Ya."
Dan Aqila pun pergi. Entah apa yang dibicarakanya bisa ditepati atau tidak.
"Sayaaaang..."
Suara itu muncul seiring kepergian Aqila, dilihatnya seorang gadis cantik menghampiri Abyan, gadis itu mencoba memeluknya, namun segera dihindarinya.
"Kenapa kamu ada disini?"
Tanya Abyan, melihat Alena ada disana, dimana tempat itu adalah basecamp-nya Abyan dan Aqila.
"Aku disuruh Aqila kesini, tadi dia kirim pesan ke aku, katanya kamu sedang bersedih, makanya aku kesini... Tapi tadi pas aku keluar, aku malah ngeliat Aqila nangis dan cepat-cepat jalannya. Aku kira dia ikut bersedih, karna kamu sedih."
Jelas Alena.
"Aku nggak bersedih kok."
Abyan tidak mengerti maksud dari semua itu. Aqila menangis? ada apa dengan dia? padahal, dia hanya pergi untuk menjemput kesibukannya, bahkan dia sendiri yang menyuruh Abyan untuk tidak menganggu. Tapi kenapa gadis itu menangis?
-BERSAMBUNG DI PART 2-
Tunggu part keduanya ya.. Cerpen kan? iya, ini cerpen kok, jangan khawatir kebanyakan bacanya. Ini cuman dua part kok, jadi untuk part selanjutnya itu sudah selesai. OKE?
Tapi ingat! ini hanya cerita FIKSI, BUKAN COPAS/PLAGIAT.
Regards,
Umi Masrifah
- KETIKA HATI TAU TEMPAT PULANG-
"Qila, hapus nggak fotonya! kebiasaan banget ya lu cari masalah sama gue."
Laki-laki itu tidak ada habisnya menggertak gadis bernama Aqila, dan sayangnya gadis itu tidak memperdulikannya sama sekali.
"Mau pilih mana lu, tangan kiri apa tangan kanan?"
"tangan kanan isinya apa? tangan kiri juga isinya apa?"
Tanya Qila malah menantang.
"Tangan kanan isinya rumah sakit, tangann kiri isinya kuburan. pilih mana lu?"
Tantang laki-laki itu yang terkenal dengan nama Abyan.
"Seriusan lu? gilak, gue takut. Gue takut tangan lu bisa melar kayak gitu ya tong, sampek rumah sakit aja muat."
Dan gadis itu dengan puasnya tertawa tanpa perduli kekesalan Abyan yang sudah sampai puncak. Seharusnya gadis itu juga tau, apa hasil akhir jika dirinya berani mengerjai sahabat laki-lakinya itu. Saat itu akhirnya tiba, kepala gadis itu dengan cepat dipaksa mendarat keketiak laki-laki itu, dengan kesal Abyan membiarkan gadis itu terus ada diketiaknya, sedangkan Aqila harus menahan nafasnya sampai laki-laki itu melepaskannya. Namun karena rasa kesalnya, laki-laki itu tak juga melepaskannya.
"Udah, udah Byan, gue nyerah... oke, gue hapus fotonya, lu lepasin gue sekarang, gue nggak bisa napas, ketiak lu udah kayak air comberan baunya."
Sergah Aqila, sebenarnya hal ini adalah momen yang selalu diingatnya, bau tubuh laki-laki itu yang persis permen mint, tidak pernah dia ingin hindari. Namun apa boleh buat, dia harus bersikap acuh, meski sebagai seorang sahabat.
"Yakin lu?"
Tanya Abyan.
"Iya yakin."
Jawab Aqila. kemudian Abyan pun melepaskannya, dengan wajah yang berantakan Aqila memandang Abyan dengan kesal. Sedangkan bibir laki-laki itu berkedut, menahan tawa karena melihat ekspresi wajah sahabatnya yang lucu.
"Sudah seperti kucing kecemplung comberan."
"Ya bener, comberan yang sangat bau."
Balas Aqila. Lucu ya, dia bersahabat dengan Abyan dengan rasa lebih dari itu, dan dia juga bisa menyembunyikannya semudah itu. Mudah? siapa bilang. Belakangan ini, Aqila menghindari Abyan, karena kenyataan yang baru didapatnya. Abyan baru saja menyatakan rasanya pada gadis lain, dan naasnya Aqila lah yang membantu semua rencana itu.
Gadis itu mengakui bahwa segala cara telah dilakukannya untuk melupakan laki-laki itu, butuh waktu lama, bahkan sejak Abyan menyatakan rasanya pada gadis kedua, dan sekarang sudah gadis yang keenam, nah, dan semuanya Aqila selalu terlibat. Seharusnya gadis itu bisa mengubur perasaannya sedalam mungkin setelah melihat semua kenyataan. kenyataan bahwa Abyan tidak pernah melihatnya sebagai seorang gadis, melainkan hanya seorang sahabat. laki-laki itu tidak pernah memberi kesempatan, oh bukan kesempatan, laki-laki itu memang tidak pernah berpikir bahwa Aqila juga sama dengan para gadis yang mengejarnya, gadis yang mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Hahaha.. Udah deh, ayo mana ponsel lu. nggak ada alesan buat lu ngeyel ya."
"Oke, oke.. Tapi ada satu syarat."
"Apa? Makan gratis? Nonton gratis? atau uang bulanan."
Tanya Abyan sangat tau apa mau Aqila jika sudah mengajukan satu syarat.
"Nggak semua. Gue mau, lu jangan ganggu gue lagi."
"Apa?"
Abyan terhenyak. Bagaimana mungkin gadis itu memiliki pikiran seperti itu.
Pikir Abyan.
"Ma-maksud gue, beberapa minggu ini gue ada banyak kesibukan. Jadi kayaknya gue nggak bisa ada buat lu."
Jawab Aqila. Jujur, semua ini sudah terencana. Mungkin dengan menghindarinya adalah rencana paling cocok untuk caranya melupakan laki-laki itu.
"Tapi nggak biasanya lu nggak ada waktu. meski sesibuk apapun lu, elu masih bisa ketemu sama gue."
"Denger Byan, nggak semua waktu gue ada untuk lu, ada saatnya gue harus sendiri, dan lu sendiri. Mmm, maksudnya untuk beberapa hari ini, sendiri karena kesibukan masing-masing, lagian lu juga udah ada cewek kan? Hahah, biasanya juga gitu kan, nggak ada gue juga nggak apa-apa, kalo lu sudah sama cewek lu. Jadi cukup, jangan masang muka melas dan sok kaget gitu."
Jelas Aqila.
"Nih, foto lu udah gue hapus."
Aqila mulai menghapus foto Abyan sedang ngupil. Dan dengan cepat Aqila menekan perintah delete diponselnya.
"Sekarang, gue mau pergi. Daaah."
Dan gadis itu pun membalikkan badannya untuk cepat pergi. Dia tidak bisa menahan cairan bening yang hampir ingin meluncur dipipinya.
"Nggak Qila, tunggu."
Ucap Abyan.
"Apa lagi?"
Aqila masih tetap ditempatnya, tidak berniat membalikkan badannya untuk melihat Abyan.
"Lu nggak pernah kayak gini."
"Oh ya? kayak lu tau gue aja. Selama ini lu selalu sibuk sama temen cowok, dan gebetan lu bukan? gimana caranya lu bisa ngerti gue."
"Lu cemburu sama mereka?"
Tunggu, apa Abyan mulai peka, bahwa Aqila seperti para gadis yang disebutnya.
"Temen-temen cowok gue nggak lebih cuman nemenin gue main kok Qila, diketimbang lu, mereka nggak bisa seperti lu. Lu sahabat gue, lebih dari mereka."
Tambah Abyan.
Dibalik tubuhnya, Aqila tersenyum miris. Faktanya, Abyan tidak pernah sadar tentang perasaan Aqila, laki-laki itu tidak pernah perduli, dan tidak mau perduli. Untuk selamanya, Abyan hanya menganggap Aqila sebagai seorang sahabat (saja), tidak pernah bisa berubah.
"Ya, gue tau. Tapi gue sibuk, dan gue harus pergi."
Ucap Aqila.
"Kapan kita bisa ketemu lagi?"
Tanya Abyan.
"Lu bisa berbalik nggak? gue lagi ngomong sama lu, tapi malah dipunggungin."
"Gue buru-buru."
Bukan, sebenarnya Aqila tidak mau Abyan lihat wajahnya yang sudah memerah.
"Yaudah, kapan kita ketemu lagi, disini?"
"Gue belum tau."
"Lu harus tau, kalo lu nggak jawab, lu nggak boleh pergi."
Gertak Abyan.
"Minggu depan."
"Oke. Gue tunggu."
"Ya."
Dan Aqila pun pergi. Entah apa yang dibicarakanya bisa ditepati atau tidak.
"Sayaaaang..."
Suara itu muncul seiring kepergian Aqila, dilihatnya seorang gadis cantik menghampiri Abyan, gadis itu mencoba memeluknya, namun segera dihindarinya.
"Kenapa kamu ada disini?"
Tanya Abyan, melihat Alena ada disana, dimana tempat itu adalah basecamp-nya Abyan dan Aqila.
"Aku disuruh Aqila kesini, tadi dia kirim pesan ke aku, katanya kamu sedang bersedih, makanya aku kesini... Tapi tadi pas aku keluar, aku malah ngeliat Aqila nangis dan cepat-cepat jalannya. Aku kira dia ikut bersedih, karna kamu sedih."
Jelas Alena.
"Aku nggak bersedih kok."
Abyan tidak mengerti maksud dari semua itu. Aqila menangis? ada apa dengan dia? padahal, dia hanya pergi untuk menjemput kesibukannya, bahkan dia sendiri yang menyuruh Abyan untuk tidak menganggu. Tapi kenapa gadis itu menangis?
-BERSAMBUNG DI PART 2-
Tunggu part keduanya ya.. Cerpen kan? iya, ini cerpen kok, jangan khawatir kebanyakan bacanya. Ini cuman dua part kok, jadi untuk part selanjutnya itu sudah selesai. OKE?
Tapi ingat! ini hanya cerita FIKSI, BUKAN COPAS/PLAGIAT.
Regards,
Umi Masrifah
Blognya sepi ya kak? Nihh aku udah hadir buat ngramein 😊 ceritanya bagus kak, tentang friend zone ya? Wuahh.. Nyeseknyaa... 😥
BalasHapusTisu... Mana tisu.. 😱😁 hee..hee...
Bales comment ya kak
Uwauuuw, ternyata ada juga yang nyasar diblog ini😂😂 coba perkenalkan dirikamu? 😂
HapusIni double friendzone, haaftt sakit rasanya, perih, terluka wkwk.
Berhubung ini komentar perdana, jadi langsung dibalas wkwk
Ah kakak... Siapapun aku, itu mah gak penting. Pokoknya aku salah satu readers kakak �� so, rajin2 update ya kakk �� Fighting kak!!!
Hapus