Langsung ke konten utama

Dua sosok tercinta

Sosok dua insan yang bertemu dalam garis takdir, menyempurnakan perbedaan, dan menyatukan persamaan hinga menjadi satu kesatuan yang sempurna.
Karena kalian lah, aku hadir di dunia ini.
Karena kalian juga lah, aku mengerti betapa indah kasih sayang yang tidak bisa digantikan oleh apapun.
Untuk pertama kalinya aku membuka mata, dan melihat dunia, saat itu lah aku diberi anugerah paling indah hingga sekarang- hingga nanti aku kembali menutup mata; yaitu sebuah nama, yang sekaligus memberikan makna dan doa disetiap aku melangkah.
Suara kumandang adzan menyambutku, menghangatkan tubuhku yang belum sepenuhnya sempurna di dunia baru. Pemilik suara itu adalah pria yang ku panggil Bapak.
Lalu, dekapan hangat menjadikan lelahku menangis hilang sekejap, kecupannya dikening memberikan tanda sebuah kasih sayang yang luasnya sama dengan seisi dunia. Dia adalah wanita yang ku panggil Ibu.

Aku merindukan masa itu, ketika Bapak dan Ibu sama-sama merawatku dalam kasih sayang yang utuh. Namun, kenyataan berkata lain.
Pria pemilik suara merdu yang pertama kalinya kudengar,
Pria yang menjadi penopang tiap aku mulai lelah,
Pria yang menjadikanku anak gadisnya paling manja,
Sudah pergi untuk selama-lamanya, membawa raga dibalik tanah tempat kembali,
Namun, meski raganya sudah tak hadir mengisi hariku, jiwanya tetap selalu menjagaku hingga tak takut akan hari esok.
Kurasa dengan memejamkan mata, sosok Bapak masih hadir untuk menina-bobokan ku.
Menguraikan suaranya hingga menjadi lantunan sholawat indah,
Namun, ketika ku buka mata semuanya hilang, suara lantunan dan kehadirannya tak dapat ku temukan lagi.

Kutemukan foto 7 tahun yang lalu, ketika Bapak masih bersamaku dan semuanya, satu-satunya foto yang mengabadikan pria bersenyum simpul, dan berkulit hitam manis. Hanya foto itu.

Jika dapat berandai,
aku ingin ada ditengah-tengah kalian,
ikut tersenyum dan berpelukan,
diabadikan hingga beberapa kali jepretan.
Aku hanya ingin itu.
Aku ingin mengutarakan dalam foto itu bahwa aku bangga memiliki kalian,
Kalian adalah kebahagiaan yang tak bisa tergantikan,
Hanya itu, meski simple tapi tak mungkin terjadi.
Tak ada yang bisa mengembalikan semuanya,
Bahkan kebahagiaanku ketika kalian masih sempurna disisiku.

Kini hanya aku, dan Ibu. Banyak yang kuabadikan bersamamu. Tapi jujur, aku juga ingin mengabadikannya dengan Bapak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...